Bahagia merupakan tujuan dari usaha kita di dunia
ini. Pekerjaan yang mapan, sesuai dengan keinginan kita harapkan bisa bahagia
dengan pekerjaan itu. Keberhasilan dalam usaha kita harapkan bisa membahagiakan
diri kita. Harta dikumpulkan sebanyak-banyaknya dengan harapan bisa membuat
kita bahagia.
Semua usaha
dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kadang justru usaha yang
dilakukan malah menambah kegelisahan, hasil yang kita peroleh hanya menimbulkan
ketidakpuasan, keadaan yang ada pada diri kita hanya menimbulkan penolakan
dan akhirnya kebahagiaan semakin jauh
dari kita.
Tidak mengherankan jika usaha malah menambah
kesulitan. Banyak orang berusaha tapi tidak mengerti cara mengelola usaha itu
agar menjadi sarana memperoleh kebahagiaan, tidak mengerti cara mengelola hasil
yang diperoleh agar menjadi modal untuk mencapai kebahagiaan, banyak orang yang
tidak mengerti cara memanfaatkan keadaan agar bisa membahagiakan diri kita.
Menyalahkan keadaan bukanlah suatu pilihan. Keadaan
yang telah ada tidak akan bisa kita ubah dengan sekejap begitu saja dengan
menyalahkan keadaan. Hal seperti itu hanya akan menjadikan kita tenggelam dalam
kesedihan yang berkepanjangan.
Keadaan seringkali berjalan tidak seperti dengan
yang kita harapkan. Jika kita selalu tidak terima dengan keadaan kemudian larut
dengan rasa tidak terima dan kemarahan maka siap-siaplah untuk mati dengan
kemaraha itu.
Mau tidak mau manusia harus menerima keadaan yang
ditakdirkan kepadanya. Ibarat keadaan adalah papan kayu dan manusa adalah paku
sedangkan Allah mempunyai palu besar berupa takdir yang akan menancapkan kita
di papan. Saat paku itu melawan dengan menyuguhkan ujung yang tumpul dia hanya
akan bengkok dan akan diluruskan kembali dengan dipukul dengan palu
berkali-kali, semakin sakit lah yang dirasakan paku. Yang dapat dilakukan
adalah memperkuat diri agar dapat mudah tertancap pada papan kayu dengan kuat.
Saat keadaan yang terjadi tidak seperti harapan atau
bahkan lebih buruk yang dapat kita lakukan adalah memaknai keadaan dengan baik.
Jangan sampai diri kita kalah, menyerah dengan keadaan. Sebenarnya yang
menentukan bahagia atau tidaknya manusia tergantung pada cara memaknai keadaan.
Bukan karena keadaan, karena kita tidak bisa mengendalikan keadaan. Yang dapat
kita kendalikan adalah pikiran jadi bahagia atau tidaknya diri kita tergantung
cara kita memaknai setiap keadaan dan kejadian yang ada di sekitar kita.
Memaknai keadaan itu dapat digambarkan seperti saat
kita membaca buku, yang akan masuk ke dalam otak adalah makna dari susunan
huruf yang terangkai menjadi kata-kata dan terjalin menjadi suatu kalimat. Yang
akan terserap dalam otak kita adalah makna dari kalimat tersebut bukan wujud
huruf-huruf yang tertempel dari media baca kemudian beterbagan masuk otak kita.
Jika kita tidak bisa memaknai keadaan berarti bisa kita gambarkan orang yang
ingin memahami isi buku tapi tidak dengan membacanya melainkan dengan
memasukkan buku tersebut ke mulut kita. Pastinya tidak lebih baik dari
membacanya dan ternyata setelah buku itu masuk, tak satu hal pun yang dapat
kita pahami dari buku itu.
Kita bisa mengendalikan otak kita dan organ tubuh
kita dalam merespon namun kita tidak bisa merencanakan dengan pasti apa yang
akan didapatkan oleh panca indra kita saat menjalani kehidupan. Kadang kita
sudah menjaga panca indra kita dengan begitu hati-hati dan teliti, namun
ternyata kita masih dihadapkan ada hal yang tidak kita harapkan. Misalnya saja
di pagi hari kita sudah berniat untuk tidak marah karena sudah diprediksikan
bahwa hari ini kita akan berlibur di tempat yang sepi tapi ternyata tidak
sengaja kita bertemu dengan orang yang sifatnya sangat menjengkelkan. Jika kita
tidak bisa mengendalikan pemaknaan dari sifatnya yang menjengkelkan itu pasti
kita akan larut dalam kebencian dan mungkin terjatuh dalam kemarahan. Jika kita sadar bahwa manusia telah diciptakan sebagai kholifah, seharusnya kita tidak mudah menyerah dengan keadaan hingga kita terpuruk dan semakin buruk karea kalah dengan keadaan.
Perasaan dan keadaan batin kita adalah kita sendiri yang menguasai. Jangan pernah menyerahkannya kepada keadaan, kemudian mengatasnamakan takdir sebagai penentunya berarti kita sama dengan suudzon kepada Allah Yang Maha Menetapkan. Takdir Allah itu hanya akan kita ketahui setelah terjadi karena itu adalah rahasia yang sangat terjaga. Takdir yang telah terjadi bukan berarti menyuruh kita larut dalam keadaan. Masa sekarang itu digunakan untuk mengusahakan takdir yang lebih baik di masa yang akan datang, salah satunya dengan memaknai keadaan dengan baik karena dengan demikian masa depan bisa menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar