Jumat, 06 Februari 2015

Pentingnya Memaknai Keadaan dengan Baik



Bahagia merupakan tujuan dari usaha kita di dunia ini. Pekerjaan yang mapan, sesuai dengan keinginan kita harapkan bisa bahagia dengan pekerjaan itu. Keberhasilan dalam usaha kita harapkan bisa membahagiakan diri kita. Harta dikumpulkan sebanyak-banyaknya dengan harapan bisa membuat kita bahagia.
Semua usaha  dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kadang justru usaha yang dilakukan malah menambah kegelisahan, hasil yang kita peroleh hanya menimbulkan ketidakpuasan, keadaan yang ada pada diri kita hanya menimbulkan penolakan dan  akhirnya kebahagiaan semakin jauh dari kita.
Tidak mengherankan jika usaha malah menambah kesulitan. Banyak orang berusaha tapi tidak mengerti cara mengelola usaha itu agar menjadi sarana memperoleh kebahagiaan, tidak mengerti cara mengelola hasil yang diperoleh agar menjadi modal untuk mencapai kebahagiaan, banyak orang yang tidak mengerti cara memanfaatkan keadaan agar bisa membahagiakan diri kita.
Menyalahkan keadaan bukanlah suatu pilihan. Keadaan yang telah ada tidak akan bisa kita ubah dengan sekejap begitu saja dengan menyalahkan keadaan. Hal seperti itu hanya akan menjadikan kita tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Keadaan seringkali berjalan tidak seperti dengan yang kita harapkan. Jika kita selalu tidak terima dengan keadaan kemudian larut dengan rasa tidak terima dan kemarahan maka siap-siaplah untuk mati dengan kemaraha itu.
Mau tidak mau manusia harus menerima keadaan yang ditakdirkan kepadanya. Ibarat keadaan adalah papan kayu dan manusa adalah paku sedangkan Allah mempunyai palu besar berupa takdir yang akan menancapkan kita di papan. Saat paku itu melawan dengan menyuguhkan ujung yang tumpul dia hanya akan bengkok dan akan diluruskan kembali dengan dipukul dengan palu berkali-kali, semakin sakit lah yang dirasakan paku. Yang dapat dilakukan adalah memperkuat diri agar dapat mudah tertancap pada papan kayu dengan kuat.
Saat keadaan yang terjadi tidak seperti harapan atau bahkan lebih buruk yang dapat kita lakukan adalah memaknai keadaan dengan baik. Jangan sampai diri kita kalah, menyerah dengan keadaan. Sebenarnya yang menentukan bahagia atau tidaknya manusia tergantung pada cara memaknai keadaan. Bukan karena keadaan, karena kita tidak bisa mengendalikan keadaan. Yang dapat kita kendalikan adalah pikiran jadi bahagia atau tidaknya diri kita tergantung cara kita memaknai setiap keadaan dan kejadian yang ada di sekitar kita.
Memaknai keadaan itu dapat digambarkan seperti saat kita membaca buku, yang akan masuk ke dalam otak adalah makna dari susunan huruf yang terangkai menjadi kata-kata dan terjalin menjadi suatu kalimat. Yang akan terserap dalam otak kita adalah makna dari kalimat tersebut bukan wujud huruf-huruf yang tertempel dari media baca kemudian beterbagan masuk otak kita. Jika kita tidak bisa memaknai keadaan berarti bisa kita gambarkan orang yang ingin memahami isi buku tapi tidak dengan membacanya melainkan dengan memasukkan buku tersebut ke mulut kita. Pastinya tidak lebih baik dari membacanya dan ternyata setelah buku itu masuk, tak satu hal pun yang dapat kita pahami dari buku itu.


Kita bisa mengendalikan otak kita dan organ tubuh kita dalam merespon namun kita tidak bisa merencanakan dengan pasti apa yang akan didapatkan oleh panca indra kita saat menjalani kehidupan. Kadang kita sudah menjaga panca indra kita dengan begitu hati-hati dan teliti, namun ternyata kita masih dihadapkan ada hal yang tidak kita harapkan. Misalnya saja di pagi hari kita sudah berniat untuk tidak marah karena sudah diprediksikan bahwa hari ini kita akan berlibur di tempat yang sepi tapi ternyata tidak sengaja kita bertemu dengan orang yang sifatnya sangat menjengkelkan. Jika kita tidak bisa mengendalikan pemaknaan dari sifatnya yang menjengkelkan itu pasti kita akan larut dalam kebencian dan mungkin terjatuh dalam kemarahan. Jika kita sadar bahwa manusia telah diciptakan sebagai kholifah, seharusnya kita tidak mudah menyerah dengan keadaan hingga kita terpuruk dan semakin buruk karea kalah dengan keadaan.
 Perasaan dan keadaan batin kita adalah kita sendiri yang menguasai. Jangan pernah menyerahkannya kepada keadaan, kemudian mengatasnamakan takdir sebagai penentunya berarti kita sama dengan suudzon kepada Allah Yang Maha Menetapkan. Takdir Allah itu hanya akan kita ketahui setelah terjadi karena itu adalah rahasia yang sangat terjaga. Takdir yang telah terjadi bukan berarti menyuruh kita larut dalam keadaan. Masa sekarang itu digunakan untuk mengusahakan takdir yang lebih baik di masa yang akan datang, salah satunya dengan memaknai keadaan dengan baik karena dengan demikian masa depan bisa menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar