Kebudayaan yang terjadi ternyata
mempengaruhi dalam setiap tingkah laku yang dilakukan secara tak diharapkan dan
spontan.
Menghantui dalam setiap pandangan
dan pendengaran.
“Budaya itu telah memakan kita.”
Itu kata mereka
Tidak! Sekali lagi tidak! Kita yang
menenggelamkan diri dalam lembah budaya lumpur itu
kita tidak pernah merasa risi
dengan lumut yang menempel di mana-mana
Sampai kapan kita menikmati
kekelaman itu?
Apa memang dunia kita di dalam
lumpur kotor dan berbau?
Demikianlah orang yang suka bermimpi,
mengharap perubahan dengan
kata-katanya.
Sekali lagi kita bukan seoorang
penyihir yang menggapai kenyataan,
dia hanya suka mengira-ngira.
Kenyataan yang terlihat pun
suram, segala yang terdengar gemuruh,
segala yang dicium dan dijilat
hambar.
Dengan segala prosesnya hanya
melihat dunia sebagai titik kecil yang dijadikan tujuan.
Oh ternyata, sekali lagi dunia
itu berwarna-warni.
Hijau tak berarti tapa biru,
biru tak berarti tanpa merah,
merah tak berarti tanpa hitam,
hitam tak berarti tanpa putih,
putih tak berarti tanpa warana
lain dan begitulah sebaliknya.
Namun apa warna asli kita?
Ataukah kita tak berwarna?
Tapi, beningkah kita?
Manusia ini mengharap sesuatu
yang istimewa, namun tak mau berbesar diri.
Mereka tak menghargai diri sebagai
orang yang besar,
sebagai manusia yang ada di sisi
yang basar.
Kita selalu menciut dalam dunia
yang luas.
Lalu, mengapa kita mengharap?
Menjadi orang gila dalam kegilaan
yang mewabah.
Tersadar hanya keidupan yang
sadar.
Manusia yang hidup pun tak sadar
dengan dirinya.
Terjerat dalam kebebasan kehidupa
untuk mencari kegelapan yang terbungkus butiran pasir
masuk dalam kulit ari tak
berbentuk dan tak tersentuh.
Logika lilin harapan itu telah
mengajari kita.
Oh, tidak. Bukan lilin yang
mengajari kita,
tetapi yang menyalakan lilin lah
yang mengajari kita tentang harapa itu.
Dan Kau bukanlah api yang menyala
dalam terik matahari di padang pasir dengan badainya
Manusia itu menamai dirinya
sebagai penegak keadilan dalam lembah kebingungan dunia.
Mereka menebar kebaikan dengan
kejahatan.
Menebar asa dengan mimpi dan
angan dalam dunia jeruji.
Melerai pertengkaran dengan
mengayun pedang yang mematikan harapan dalam taman jamur racun yang tersebar.
Berkalung rantai yang terpancang
kedustaan.
Melihat kenyataan yang berbeda
dalam dunia yang penuh dialok dan dialektika pemasaran kehendak.
Dunia telah menjadi wabah
keindahannya,
dikambinghitamkan manusia sebagai
mala petaka namun sang aktor tak melakukan pekerjaannya.
Kita adalah pemburu yang diburu.
Manusia selalu diburu masa yang
seharusnya dikendalikannya.
Itu memang kita, kita itu ya
memang seperti itulah.
Manusia yang tak sopan.
Menuntu hak yang besar tanpa
memperhatikan keberadaaannya yang tetap sebagai manusia.
Mengingiinkan hal yang bijak namun
tak pernah adil terhadap kewajibannya.
Seorang pujangga hanya bisa
berenung dan merangkai kata.
Menyelami selubung senja dalam
cerahnya taman berbunga.
Melihat kegelapan di bawah
kelopak matahari, menuai mimpi yang mendiami hati.
(s. moonier_Hanya orang
aneh yang memahami)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar