Jumat, 20 Februari 2015

Dihina? No problem!



Dalam kehidupan ini pasti kita akan berhadapan dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial keberadaan manusia lain tentulah sangat kita butuhkan. Dari hanya sekedar pemenuh kebutuhan sosialisasi, teman berkomunikasi, meminta bantuan, sampai sebagai sasaran atau sarana aktualisasi diri. Semua itu tak lepas dari hubungan antar manusia satu dengan yang lainnya.
Setiap manusia diciptakan unik, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sifat manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan keadaan fisik maupun status sosial, antara satu dengan yang lain pasti memiliki pencapaian yang berbeda. Perbedaan-perbendaan itu jika tidak disikapi dengan baik maka akan terjadi gesekan-gesekan yang akan membuat yang lain merasa tidak nyaman. Terlebih perbedaan pendidikan dan pengetahuan. Hal itu akan sangat mempengaruhi cara orang dalam menghadapi perbedaan.
Sebagai orang yang berpengetahuan tentulah kita harus menyikapi perbedaan dengan baik. Apalagi sebagai ummat Islam yang berpedoman dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Kita diajarkan untuk selalu berbuat baik dalam keadaan apa saja, dimana saja dan kapan saja. Walau begitu kadang kita tidak bisa menolak jika ada orang yang beragama tapi ternyata tidak bisa mengendalikan dirinya. Akhirnya ejekan, hinaan bahkan fitnahan mungkin saja menimpa kita. Ejekan, hinaan atau fitnahan pasti akan membuat kita marah jika kita tidak bisa mengendalikan diri. Diejek atau dihina orang dengan kenyataan yang ada saja bisa marah, apa lagi yang tidak sesuai dengan kenyataannya?
Marah atau membalasnya dengan balasan serupa bukanlah solusi. Marah tidak akan menyelesaikan masalah, salah-salah malah akan menambah masalah. Membalasnya dengan ejekan, hinaan atau fitnahan serupa hanya akan membuat saling membenci dan hubungan antar sesama manusia akan semakin jauh. Jika hal ini diteruskan tentu permasalahan yang terjadi akan semakin melebar dan tidak ada hentinya. Untuk menyelesaikannya kita perlu melakukan cara lain yang lebih baik untuk kemaslahatan bersama. Di sini kita akan membahas sedikit cara mengaatasi hinaan dengan baik.
***
Pertama, diamlah. Diam baik dalam perbuatan, perkataan maupun mimik muka, diamlah dalam raut wajah yang tetap baik dan pikiran positif. Diam dalam menghadapi hinaan orang merupakan cara yang paling ampuh untuk menghindarkan diri kita dari membalas perbuatannya. Agar kita tidak terjerumus dalam buruknya perkataan yang dilandasi nafsu amarah, agar kita tidak menusuk hati orang dengan kata-kata. Memang, diam itu menunjukkan kelemaha kita untuk melawan serangan orang lain. Tapi, sebenarnya diam bukan berarti lemah, tapi diam itu berarti kita kuat untuk menahan amarah kita. Untuk menunjukkan bahwa ke-diam-an kita bukan kelemahan kita maka perlu kita buktikan kebenaran tindakan kita, karena kebenaran itu adalah kekuatan.
Jika pernah membaca tulisan saya sebelumnya tentang pasrah dan sabar maka diam merupakan tanda bahwa kita pasrah kepada keadaan, jika kita pasrah dengan keadaan bisa-bisa orang lain terpancing untuk memberi hinaan serupa kepada kita. Pastinya kita tidak ingin hal tersebut menimpa kita. Supaya hal tersebut tidak terjadi maka kita perlu mengadakan perbaikan. Baik perbaikan diri sendiri maupun perbaikan yang tertuju kepada keadaan (orang itu tidak menghina lagi). Untuk dapat melakukan perbaikan maka lakukan cara kedua.
Kedua, muhasabah. Muhasabah atau introspeksi diri berarti menilai diri sendiri dari berbagai aspek sudut pandang, apakah yang salah dengan diri saya? Dalam hal ini, tanyakan lepda diri sendiri apa yang salah dengan diri saya sehingga dia menghina saya? Hal ini akan membuat kita menjadi orang yang yang lebih sadar diri dan membuat reaksi marah kita terhadap hinaan semakin lambat, seperti yang kita ketahui juga Rasulullah itu adalah orang paling lambat marahnya dan kalau marah paling cepat redanya.
Saat introspeksi ternyata hinaan itu karena kesalahan kita sendiri beraarti kita harus segera memperbaiki kesalahan tersebut, agar hinaan itu tidak berlanjut dan memperburuk diri kita sendiri. Tidak perlu sakit hati lagi karena hinaan itu sebenarnya kritik bagi kita agar kita bisa lebih baik lagi. Kalaupun tadi menganggap itu sebagai hinaan karena tadi kita yang belum tau karena hati kita sudah sakit duluan dengan kritikan itu. Sekarang tak perlu sakit hati lagi, yang perlu dilakukan adalah melakukan perbaikan. Seandainya hinaan itu bukan karena kesalahan kita maka kita perlu melakukan cara selanjutnya.
Ketiga, cari alasan dia dalam menghina kita. Sebenarnya, kenapa dia menghina saya? Mencari alasannya dalam menghina bukan berarti mencari kesalahan orang lain. Tapi untuk bisa lebih memahami orang lain. Karena alasan orang menghina kita itu tentu berbeda-beda. Ada yang menghina karena tidak tau diri kita, karena iri, ingin diperhatikan, sifatnya yang merasa paling benar, atau takut posisinya terancam. Maka untuk menghadapi mereka perlu cara yang berbeda-beda juga, tergantung alasan dan kecenderungan mereka. Biasanya orang seperti ini menghina dengan hinaan yang tidak sesuai dengan kenyetaan, maka agar dia tidak menghina terus-menerus kita cukup membuktikan bahwa hinaan itu tidak benar. Jika kita sudah benar tapi dia tetap menghina maka bicarakanlah secara privat. Apabila dia tidak bisa diajak bicara maka diamlah, orang lain tidak akan ikut memberikan hinaan itu kepadamu dan lakukan cara berikutnya.
Keempat, maafkanlah. Memaafkan adalah cara yang dilakukan oleh para penyayang. Maafkanlah dan lupakanlah kemudian bukalah komunikasi dengan dia secara baik. Dengan memaafkan berarti kita menyayangi orang yang menghina kita, karena jika kita dihina kemudian sakit hati maka selama kita sakit hati selama itu pula yang menghina kita mendapatkan dosa. Jika kita membiarkan saudara kita dalam dosa maka hatinya akan semakin gelap dan orang yang hatinya gelap akan semakin mudah berbuat dosa yang lain, akhirnya yang merasakan imbas dari dosanya semakin banyak, semakin banyak orang yang resah karenanya akhirnya jalannya ke surga semakin sempit sedangkan jalannya keneraka semakin luas. Padahal Rasulullah pernah bersabda “Barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi (Allah).” Oleh karena itu menjadi seorang pemaaf merupakan pilihan yang membawa kemaslahatan bagi ummat dan bentuk kasih sayang yang sangat mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar