Antara sabar dan pasrah kepada keadaan itu bedanya
sangat tipis sekali, hanya seperti balikan kertas. Namun efek yang ditimbulkan
sangatlah jauh berbeda. Dalam pandangan agama pun sangat jauh berbeda. Sabar itu
termasuk ahlak terpuji yang dimiliki Rasulullah sedangkan pasrah kepada keadaan
itu tidak baik karena pasrah kepada keadaan itu bagian dari sifat putus asa.
Bedakan juga antara pasrah kepada keadaan dengan
pasrah kepada Allah. Pasrah kepada Allah merupakan sifat yang sangat tinggi,
dalam agama itu biasa disebut tawakkal atau taslim. Yaitu keadaan dimana
manusia mampu menyerahkan semua keadaan jasmani dan rohaninya, menyerahkan
segala yang terjadi kepadanya serta segala tindakannya kepada Allah. Sedangkan pasrah
dengan keadaan berarti menyerahkan jiwanya kepada keadaan yang dialami saat
itu. Sungguh hina sekali bagi mahluk yang tercipta sebagai khalifah dibumi. Seharusnya
bisa mengendalikan dirinya dari pengaruh keadaan malah terjebak dalam arus
keadaan.
Di sini kita tidak akan membahas perbedaan antara pasrah
kepada Allah dengan pasrah kepada keadaan. Karena perbedaannya kadang tidak
bisa dilihat oleh orang. Tawakkal itu berhubungan dengan hati yang sangat sulit
diteliti oleh orang lain, yang tau orang itu sebenarnya tawakkal atau pasrah
kepada keadaan hanya Allah dan dirinya, atau orang yang memiliki komunikasi
intensif dengan orang yang tawakkal itu. Maka disini kita hanya membahas antara
sabar dan pasrah kepada keadaan.
***
Sabar itu tidak ada batasnya. Kalau ada orang yang
mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya berarti sebenarnya dia belum sabar,
tapi masih belajar sabar. Sampai kapan pun kalau seseorang itu memiliki
kesabaran dia akan bisa mengendalikan dirinya dalam situasi apapun. Orang yang
sabar tidak punya alasan untuk menyerah, dia punya kekuatan dalam menjalani
kehidupan.
Tindakan yang aka dilakukan orang juga berbeda. Misalkan
saja ada orang yang mengolok-olok dia, maka orang yang sabar akan mudah
memaafkannya walaupun hal itu dilakukan berkali-kali. Yang dia lakukan
menghadapi olokan itu adalah hanya akan memandang dirinya sendiri bahwa mungkin
saja yang diolokkan itiu memang benar. Apabila itu ternyata tidak benar maka
yang dilakuka adalah justru mendekati orang yang mengolok-olok dia itiu dengan
baik untuk mencari alasan dia mengolok-olok seperti itu. Berbeda dengan orang
yang pasrah, orang yang pasrah akan membiarkan keadaan itu tanpa mempertanyakan
dan mencari sebab dia diperlakukan seperti itu. Padahal sebenarnya dalam
hatinya marah, namun pikirannya tidak digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.
Seandainya dia yang salah maka dia akan tetap dalam keadaan salah. Seandainya dia
tidak salah maka keadaan akan memperburuk pandangan orang terhadap dirinya.
Efek sabar terhadap dirinya sendiri aka berbeda. Orang
yang sabar cenderung berubah kepada perubahan yang lebih baik karena dia
memiliki alasa untuk setiap tindakannya. Setiap keadaan yang menimpanya
dijadikan pelajaran untuk bisa menjalankan kehidupan selanjutnya dengan lebih
baik. Sedangkan orang yang pasrah tidak berubah lebih baik, bisa saja dia tetap
dalam keadaannya mungkin juga berubah lebih buruk.
Orang yang memandang juga akan memiliki pandangan
yang berbeda. Orang yang memandang orang lain yang sabar dia akan cenderung termotivasi.
Karena orang yang sabar memiliki kegigihan dan tidak menyerah namun tetap bersahaja
dan bijak dalam menyikapi keadaannya. Namun jika melihat orang yang pasrah
dengan keadaan akan membuat orang lain geregetan, jengkel dan lainnya karena orang
yang melihatnya sebenarnya kasihan tapi ternyata orang yang dikasihani tidak berusaha
berubah dari keadaannya, tetap dalam kelemahan dan hanya diam saja saat
dipermainkan oleh keadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar