Selasa, 17 Februari 2015

Antara Sabar dan Pasrah kepada Keadaan



Antara sabar dan pasrah kepada keadaan itu bedanya sangat tipis sekali, hanya seperti balikan kertas. Namun efek yang ditimbulkan sangatlah jauh berbeda. Dalam pandangan agama pun sangat jauh berbeda. Sabar itu termasuk ahlak terpuji yang dimiliki Rasulullah sedangkan pasrah kepada keadaan itu tidak baik karena pasrah kepada keadaan itu bagian dari sifat putus asa.
Bedakan juga antara pasrah kepada keadaan dengan pasrah kepada Allah. Pasrah kepada Allah merupakan sifat yang sangat tinggi, dalam agama itu biasa disebut tawakkal atau taslim. Yaitu keadaan dimana manusia mampu menyerahkan semua keadaan jasmani dan rohaninya, menyerahkan segala yang terjadi kepadanya serta segala tindakannya kepada Allah. Sedangkan pasrah dengan keadaan berarti menyerahkan jiwanya kepada keadaan yang dialami saat itu. Sungguh hina sekali bagi mahluk yang tercipta sebagai khalifah dibumi. Seharusnya bisa mengendalikan dirinya dari pengaruh keadaan malah terjebak dalam arus keadaan.
Di sini kita tidak akan membahas perbedaan antara pasrah kepada Allah dengan pasrah kepada keadaan. Karena perbedaannya kadang tidak bisa dilihat oleh orang. Tawakkal itu berhubungan dengan hati yang sangat sulit diteliti oleh orang lain, yang tau orang itu sebenarnya tawakkal atau pasrah kepada keadaan hanya Allah dan dirinya, atau orang yang memiliki komunikasi intensif dengan orang yang tawakkal itu. Maka disini kita hanya membahas antara sabar dan pasrah kepada keadaan.
***
Sabar itu tidak ada batasnya. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya berarti sebenarnya dia belum sabar, tapi masih belajar sabar. Sampai kapan pun kalau seseorang itu memiliki kesabaran dia akan bisa mengendalikan dirinya dalam situasi apapun. Orang yang sabar tidak punya alasan untuk menyerah, dia punya kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Tindakan yang aka dilakukan orang juga berbeda. Misalkan saja ada orang yang mengolok-olok dia, maka orang yang sabar akan mudah memaafkannya walaupun hal itu dilakukan berkali-kali. Yang dia lakukan menghadapi olokan itu adalah hanya akan memandang dirinya sendiri bahwa mungkin saja yang diolokkan itiu memang benar. Apabila itu ternyata tidak benar maka yang dilakuka adalah justru mendekati orang yang mengolok-olok dia itiu dengan baik untuk mencari alasan dia mengolok-olok seperti itu. Berbeda dengan orang yang pasrah, orang yang pasrah akan membiarkan keadaan itu tanpa mempertanyakan dan mencari sebab dia diperlakukan seperti itu. Padahal sebenarnya dalam hatinya marah, namun pikirannya tidak digunakan untuk menyelesaikan masalahnya. Seandainya dia yang salah maka dia akan tetap dalam keadaan salah. Seandainya dia tidak salah maka keadaan akan memperburuk pandangan orang terhadap dirinya.
Efek sabar terhadap dirinya sendiri aka berbeda. Orang yang sabar cenderung berubah kepada perubahan yang lebih baik karena dia memiliki alasa untuk setiap tindakannya. Setiap keadaan yang menimpanya dijadikan pelajaran untuk bisa menjalankan kehidupan selanjutnya dengan lebih baik. Sedangkan orang yang pasrah tidak berubah lebih baik, bisa saja dia tetap dalam keadaannya mungkin juga berubah lebih buruk.
Orang yang memandang juga akan memiliki pandangan yang berbeda. Orang yang memandang orang lain yang sabar dia akan cenderung termotivasi. Karena orang yang sabar memiliki kegigihan dan tidak menyerah namun tetap bersahaja dan bijak dalam menyikapi keadaannya. Namun jika melihat orang yang pasrah dengan keadaan akan membuat orang lain geregetan, jengkel dan lainnya karena orang yang melihatnya sebenarnya kasihan tapi ternyata orang yang dikasihani tidak berusaha berubah dari keadaannya, tetap dalam kelemahan dan hanya diam saja saat dipermainkan oleh keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar