Jumat, 20 Februari 2015

Dihina? No problem!



Dalam kehidupan ini pasti kita akan berhadapan dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial keberadaan manusia lain tentulah sangat kita butuhkan. Dari hanya sekedar pemenuh kebutuhan sosialisasi, teman berkomunikasi, meminta bantuan, sampai sebagai sasaran atau sarana aktualisasi diri. Semua itu tak lepas dari hubungan antar manusia satu dengan yang lainnya.
Setiap manusia diciptakan unik, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sifat manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan keadaan fisik maupun status sosial, antara satu dengan yang lain pasti memiliki pencapaian yang berbeda. Perbedaan-perbendaan itu jika tidak disikapi dengan baik maka akan terjadi gesekan-gesekan yang akan membuat yang lain merasa tidak nyaman. Terlebih perbedaan pendidikan dan pengetahuan. Hal itu akan sangat mempengaruhi cara orang dalam menghadapi perbedaan.
Sebagai orang yang berpengetahuan tentulah kita harus menyikapi perbedaan dengan baik. Apalagi sebagai ummat Islam yang berpedoman dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Kita diajarkan untuk selalu berbuat baik dalam keadaan apa saja, dimana saja dan kapan saja. Walau begitu kadang kita tidak bisa menolak jika ada orang yang beragama tapi ternyata tidak bisa mengendalikan dirinya. Akhirnya ejekan, hinaan bahkan fitnahan mungkin saja menimpa kita. Ejekan, hinaan atau fitnahan pasti akan membuat kita marah jika kita tidak bisa mengendalikan diri. Diejek atau dihina orang dengan kenyataan yang ada saja bisa marah, apa lagi yang tidak sesuai dengan kenyataannya?
Marah atau membalasnya dengan balasan serupa bukanlah solusi. Marah tidak akan menyelesaikan masalah, salah-salah malah akan menambah masalah. Membalasnya dengan ejekan, hinaan atau fitnahan serupa hanya akan membuat saling membenci dan hubungan antar sesama manusia akan semakin jauh. Jika hal ini diteruskan tentu permasalahan yang terjadi akan semakin melebar dan tidak ada hentinya. Untuk menyelesaikannya kita perlu melakukan cara lain yang lebih baik untuk kemaslahatan bersama. Di sini kita akan membahas sedikit cara mengaatasi hinaan dengan baik.
***
Pertama, diamlah. Diam baik dalam perbuatan, perkataan maupun mimik muka, diamlah dalam raut wajah yang tetap baik dan pikiran positif. Diam dalam menghadapi hinaan orang merupakan cara yang paling ampuh untuk menghindarkan diri kita dari membalas perbuatannya. Agar kita tidak terjerumus dalam buruknya perkataan yang dilandasi nafsu amarah, agar kita tidak menusuk hati orang dengan kata-kata. Memang, diam itu menunjukkan kelemaha kita untuk melawan serangan orang lain. Tapi, sebenarnya diam bukan berarti lemah, tapi diam itu berarti kita kuat untuk menahan amarah kita. Untuk menunjukkan bahwa ke-diam-an kita bukan kelemahan kita maka perlu kita buktikan kebenaran tindakan kita, karena kebenaran itu adalah kekuatan.
Jika pernah membaca tulisan saya sebelumnya tentang pasrah dan sabar maka diam merupakan tanda bahwa kita pasrah kepada keadaan, jika kita pasrah dengan keadaan bisa-bisa orang lain terpancing untuk memberi hinaan serupa kepada kita. Pastinya kita tidak ingin hal tersebut menimpa kita. Supaya hal tersebut tidak terjadi maka kita perlu mengadakan perbaikan. Baik perbaikan diri sendiri maupun perbaikan yang tertuju kepada keadaan (orang itu tidak menghina lagi). Untuk dapat melakukan perbaikan maka lakukan cara kedua.
Kedua, muhasabah. Muhasabah atau introspeksi diri berarti menilai diri sendiri dari berbagai aspek sudut pandang, apakah yang salah dengan diri saya? Dalam hal ini, tanyakan lepda diri sendiri apa yang salah dengan diri saya sehingga dia menghina saya? Hal ini akan membuat kita menjadi orang yang yang lebih sadar diri dan membuat reaksi marah kita terhadap hinaan semakin lambat, seperti yang kita ketahui juga Rasulullah itu adalah orang paling lambat marahnya dan kalau marah paling cepat redanya.
Saat introspeksi ternyata hinaan itu karena kesalahan kita sendiri beraarti kita harus segera memperbaiki kesalahan tersebut, agar hinaan itu tidak berlanjut dan memperburuk diri kita sendiri. Tidak perlu sakit hati lagi karena hinaan itu sebenarnya kritik bagi kita agar kita bisa lebih baik lagi. Kalaupun tadi menganggap itu sebagai hinaan karena tadi kita yang belum tau karena hati kita sudah sakit duluan dengan kritikan itu. Sekarang tak perlu sakit hati lagi, yang perlu dilakukan adalah melakukan perbaikan. Seandainya hinaan itu bukan karena kesalahan kita maka kita perlu melakukan cara selanjutnya.
Ketiga, cari alasan dia dalam menghina kita. Sebenarnya, kenapa dia menghina saya? Mencari alasannya dalam menghina bukan berarti mencari kesalahan orang lain. Tapi untuk bisa lebih memahami orang lain. Karena alasan orang menghina kita itu tentu berbeda-beda. Ada yang menghina karena tidak tau diri kita, karena iri, ingin diperhatikan, sifatnya yang merasa paling benar, atau takut posisinya terancam. Maka untuk menghadapi mereka perlu cara yang berbeda-beda juga, tergantung alasan dan kecenderungan mereka. Biasanya orang seperti ini menghina dengan hinaan yang tidak sesuai dengan kenyetaan, maka agar dia tidak menghina terus-menerus kita cukup membuktikan bahwa hinaan itu tidak benar. Jika kita sudah benar tapi dia tetap menghina maka bicarakanlah secara privat. Apabila dia tidak bisa diajak bicara maka diamlah, orang lain tidak akan ikut memberikan hinaan itu kepadamu dan lakukan cara berikutnya.
Keempat, maafkanlah. Memaafkan adalah cara yang dilakukan oleh para penyayang. Maafkanlah dan lupakanlah kemudian bukalah komunikasi dengan dia secara baik. Dengan memaafkan berarti kita menyayangi orang yang menghina kita, karena jika kita dihina kemudian sakit hati maka selama kita sakit hati selama itu pula yang menghina kita mendapatkan dosa. Jika kita membiarkan saudara kita dalam dosa maka hatinya akan semakin gelap dan orang yang hatinya gelap akan semakin mudah berbuat dosa yang lain, akhirnya yang merasakan imbas dari dosanya semakin banyak, semakin banyak orang yang resah karenanya akhirnya jalannya ke surga semakin sempit sedangkan jalannya keneraka semakin luas. Padahal Rasulullah pernah bersabda “Barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi (Allah).” Oleh karena itu menjadi seorang pemaaf merupakan pilihan yang membawa kemaslahatan bagi ummat dan bentuk kasih sayang yang sangat mulia.

Selasa, 17 Februari 2015

Antara Sabar dan Pasrah kepada Keadaan



Antara sabar dan pasrah kepada keadaan itu bedanya sangat tipis sekali, hanya seperti balikan kertas. Namun efek yang ditimbulkan sangatlah jauh berbeda. Dalam pandangan agama pun sangat jauh berbeda. Sabar itu termasuk ahlak terpuji yang dimiliki Rasulullah sedangkan pasrah kepada keadaan itu tidak baik karena pasrah kepada keadaan itu bagian dari sifat putus asa.
Bedakan juga antara pasrah kepada keadaan dengan pasrah kepada Allah. Pasrah kepada Allah merupakan sifat yang sangat tinggi, dalam agama itu biasa disebut tawakkal atau taslim. Yaitu keadaan dimana manusia mampu menyerahkan semua keadaan jasmani dan rohaninya, menyerahkan segala yang terjadi kepadanya serta segala tindakannya kepada Allah. Sedangkan pasrah dengan keadaan berarti menyerahkan jiwanya kepada keadaan yang dialami saat itu. Sungguh hina sekali bagi mahluk yang tercipta sebagai khalifah dibumi. Seharusnya bisa mengendalikan dirinya dari pengaruh keadaan malah terjebak dalam arus keadaan.
Di sini kita tidak akan membahas perbedaan antara pasrah kepada Allah dengan pasrah kepada keadaan. Karena perbedaannya kadang tidak bisa dilihat oleh orang. Tawakkal itu berhubungan dengan hati yang sangat sulit diteliti oleh orang lain, yang tau orang itu sebenarnya tawakkal atau pasrah kepada keadaan hanya Allah dan dirinya, atau orang yang memiliki komunikasi intensif dengan orang yang tawakkal itu. Maka disini kita hanya membahas antara sabar dan pasrah kepada keadaan.
***
Sabar itu tidak ada batasnya. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya berarti sebenarnya dia belum sabar, tapi masih belajar sabar. Sampai kapan pun kalau seseorang itu memiliki kesabaran dia akan bisa mengendalikan dirinya dalam situasi apapun. Orang yang sabar tidak punya alasan untuk menyerah, dia punya kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Tindakan yang aka dilakukan orang juga berbeda. Misalkan saja ada orang yang mengolok-olok dia, maka orang yang sabar akan mudah memaafkannya walaupun hal itu dilakukan berkali-kali. Yang dia lakukan menghadapi olokan itu adalah hanya akan memandang dirinya sendiri bahwa mungkin saja yang diolokkan itiu memang benar. Apabila itu ternyata tidak benar maka yang dilakuka adalah justru mendekati orang yang mengolok-olok dia itiu dengan baik untuk mencari alasan dia mengolok-olok seperti itu. Berbeda dengan orang yang pasrah, orang yang pasrah akan membiarkan keadaan itu tanpa mempertanyakan dan mencari sebab dia diperlakukan seperti itu. Padahal sebenarnya dalam hatinya marah, namun pikirannya tidak digunakan untuk menyelesaikan masalahnya. Seandainya dia yang salah maka dia akan tetap dalam keadaan salah. Seandainya dia tidak salah maka keadaan akan memperburuk pandangan orang terhadap dirinya.
Efek sabar terhadap dirinya sendiri aka berbeda. Orang yang sabar cenderung berubah kepada perubahan yang lebih baik karena dia memiliki alasa untuk setiap tindakannya. Setiap keadaan yang menimpanya dijadikan pelajaran untuk bisa menjalankan kehidupan selanjutnya dengan lebih baik. Sedangkan orang yang pasrah tidak berubah lebih baik, bisa saja dia tetap dalam keadaannya mungkin juga berubah lebih buruk.
Orang yang memandang juga akan memiliki pandangan yang berbeda. Orang yang memandang orang lain yang sabar dia akan cenderung termotivasi. Karena orang yang sabar memiliki kegigihan dan tidak menyerah namun tetap bersahaja dan bijak dalam menyikapi keadaannya. Namun jika melihat orang yang pasrah dengan keadaan akan membuat orang lain geregetan, jengkel dan lainnya karena orang yang melihatnya sebenarnya kasihan tapi ternyata orang yang dikasihani tidak berusaha berubah dari keadaannya, tetap dalam kelemahan dan hanya diam saja saat dipermainkan oleh keadaan.

Minggu, 15 Februari 2015

Menjaga Kebudayaan Islam



Agama Islam pertama kali turun dan disebarkan di Arab Saudi tepatnya pada kelompok Bani Quraisy yang ada di kota Makkah. Karena itu, kebudayaan Islam tentulah sangat kental dengan nuansa kebudayaan Arab. Namun kebudayaan Islam tidak harus sama dengan kebudayaan Arab sebagai tempat pertama kalinya Islam disebarkan.
Perlu kita ketahui bahwa, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Baik itu hasil belajar dari zamannya yang diolah dengan pikirannya secara original maupun hasil dari pengaruh dengan kebudayaan yang lain.
Kebudayaan Islam itu sangat banyak. Mungkin sebanyak kebudayaan daerah yang di situ tersiar dan ada proses pengembagan agama Islam, karena sifat dari kebudayaan itu sendiri karena sifat dari kebudayaan itu sendiri yang adaptif, dinamis dan integratif. Selain itu agama Islam cenderung fleksibel dengan kebudayaan yang ada. Tapi, dengan begitu bukan berarti Islam itu agama yang memiliki konsistensi terhadap ajarannya.
Agama islam memiliki sumber hukum yang universal dan sangat jelas, yang tidak berubah dari zaman ke zaman, yang terjaga keasliannya yaitu Al-Qur’an. Kemudian ada sumber yang kedua sebagai penegas dan penjelas hukum yang pertama yaitu perkataan, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah yang lebih kita kenal dengan nama hadits.
Dua sumber pokok ajaran ini merupakan inti dan kosistensi yang tidak boleh ditolak oleh semua umat Islam, karena semua hukum yang ada dalam islam itu dapat diambil langsung atau di kiaskan dari dua sumber ini. Demikian pula dengan kebudayaan, kebudayaan di suatu daerah dapat diterima dalam islam secara selektif. Selama kebudayaan itu tidak bertentangan dengan dua sumber ini, kebudayaan di masyarakat yang telah ada boleh dijalankan. Karena itu, jika kita bicara tentang jumlah kebudayaan Islam maka sangat banyak sekali.
Dari sekian banyak itu, kebudayaan Islam dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu kebudayaan asli dan kebudayaan turunan. Kebudayaan asli maksudnya adalah kebudayaan yang asli bersumber dari ajaran Islam yang harus dijalankan juga oleh para pengikutnya. Sedangkan turunan adalah kebudayaan yang merupakan hasil dari penyebaran (difusi), Percampuran (akulturasi) maupun pembauran budaya (asimilasi). Maka tidak heran jika kita bicara tentang jumlah kebudayaan Islam itu sangat beragam dan banyak sekali. Dari sekian banyak kebudayaan Islam itu, tentu tidak mungkin kita menjaganya semua. Karena semua kebudayaan pasti mengalami perubahan menurut dengan pola perkembanga zaman.
Tapi ada budaya asli atau pokok dalam Islam yang perlu kita jaga yaitu kebudayaan beribadah dan kebudayan berfikir. Kebudayaan itulah yang akan menjadi identitas seorang muslim dan tidak boleh hilang dalam diri seorang muslim. Untuk dapat menjaganya maka kita perlu memahami kebudayaan asli itu.

Minggu, 08 Februari 2015

Katakan "I am Agent of Islam"



Dari zaman dahulu Islam selalu mengalami perkembangan terutama dalam segi kebudayaan. Hal itu tidak lepas dari perkembangan kebudayaan dunia. Perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi yang semakin mudah menjadikan persebaran dan berkembangan budaya semakin cepat dan hampir tidak terkendali.
Selain itu yang sangat berpengaruh lagi bagi kebudayaan adalah para generasi muda. Generasi muda sebagai penerus kehidupan di masa yang akan datang, keberadaannya menjadi agen perubahan bagi masyarakat. Yang dibawa adalah perubahan ke arah yang lebih baik atau malah lebih buruk adalah ditentukan oleh para generasi muda, karena mau atau tidak mau mereka yang akan menggantikan estafet kebudayaan. Mereka yang bertanggung jawab untuk menyaring kebudayaan-kebudayaan baru yang diperoleh dari berbagai media komunikasi maupun dari realita kehidupan ini.
Generasi muda memiliki rasa ingin tahu dan emosi yang kuat sehingga sangat cepat menyesuaikan diri dengan teknologi modern saat ini, berbagai sarana komunikasi dengan mudah dikuasai. Informasi tentang kebudayaan-kebudayaan baru sangat mudah mereka akses. Selain itu rasa ingin bebas menjadikan perkembangan kebudayaan baru yang mereka dapat, mungkin mereka adopsi tanpa disaring dengan norma-norma yang berlaku. Kebudayaan-kebudayaan yang dianggap menyenangkan dan dianggap sesuai dengan pemikirannya diterima begitu saja tanpa menimbang dari sudut norma yang telah berlaku. sehingga kebudayaan itu juga mempengaruhi norma-norma yang berlaku di berbagai belahan dunia.
Kebudayaan baru yang disepakati dan dijalankan oleh masyarakat menjadi suatu kebiasaan, setelah dijalankan dan menjadi kebiasaan kemudian dalam kebudayaan tersebut dianggap ada nilai-nilai yang patut digunakan, tanpa mempertimbangkan norma yang telah ada nilai-nilai yang dianggap sesuai dengan pemikiran masyarakat akhirnya menjadi norma di masyarakat. Hal ini yang menjadikan subjektivitas dalam mengadopsi suatu kebudayaan akhirnya tidak heran jika perubahan kebudayaan mengikis norma-norma yang berlaku padahal kebudayaan yang diadopsi itu belum tentu benar.
Norma yang telah berlaku di masyarakat memang tidak semuanya up to date, tidak semuanya sesuai dengan perkembangan zaman, bahkan kadang norma yang berlaku menghambat perkembangan suatu masyarakat itu sendiri. Tapi tidak semua norma menghambat perkembangan. Seperti yang kita ketahui bahwa menurut sumbernya ada empat norma yang berlaku di masyarakat kita. Norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum.
Kita perlu mengambil satu norma yang universal sebagai filter yang benar-benar kuat dan kita prioritaskan dalam mengadopsi kebudayaan, norma yang menunjukkan baik dan buruk secara jelas dan tertulis, norma yang selalu up to date, norma yang selalu sesuai dengan perkekmbangan zaman bahkan seolah-olah zaman mengikuti perkembangannya, norma yang didalamnya tersirat dan tersurat ramalan-ramalan masa depan dari zaman ke zaman, norma yang memberikan penjelasan tentang kehidupan dunia dan akhirat yaitu norma agama. Tentunya norma agama yang sesuai dengan klasifikasi yang dimaksud di sini adalah agama Islam dengan norma tertulisnya yaitu Al-Qur’an dan hadits.
Kita sudah memiliki filter yang baik dan kuat dalam menyikapi perkembangan kebudayaan dunia. Sayangnya tidak banyak orang yang menyadarinya, akhirnya filter itu tidak digunakan sebagaimana mestinya. Suatu alat jika tidak digunakan sebagaimana mestinya maka tidak berguna. Padahal kita sangat membutuhkan filter itu.
Untuk menyebarluaskan dan mengenalkan alat itu perlu adanya sosialisasi dan promosi baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian untuk meyakinkannya dan membuat masyarakat tertarik maka kita perlu agen yang dapat meyakinkan dan membuktikan kualitas alat tersebut. Kita membutuhkan generasi yang mau dan berusaha menjalani serta mau menyiarkan agama Islam dengan baik untuk menjadi Agent of Islam.
Agen secara umum dapat kita artikan sebagai perantara baik dalam penjualan barang maupun jasa. Pengertian ini sering digunakan dalam perusahaan pelayanan. Seperti pada asuransi maka ada istilah agen asuransi atau dalam mempermudah sarana pra sarana perjalanan maka ada agen perjalanan. Namun di sini yang maksud bukan itu. Agen disini kita artikan sebagai orang yang mendorong dan mempengaruhi terciptaya perubahan sikap pada diri seseorang agar mau melakukan hal yang diharapkan agen tersebut.
Dari pengertian itu agent of Islam dapat diartikan sebagai orang yang mendorong dan mempengaruhi perubahan sikap pada diri seseorang agar mau melakukan kultur maupun kebiasaan-kebiasaan Islami sesuai yang diajarkan dalam Al Qur’an dan Hadits. Agent of Islam   memiliki tanggung jawab untuk menyiarkan dan melaksanakan agama dengan benar serta sebisa mungkin mampu membuat orang lain tertarik untuk mau melaksanakan syariat Islam dengan benar juga.
Dalam keadaan zaman yang seperti sekarang ini dimana syariat Islam mulai dikesampingkan bahkan dilupakan, hingga Islam hanya digunakan sebagai nama bahkan sebagai topeng, apakah kita rela jika Islam hanya tinggal namanya? Apakah kita rela jika Islam hanya digunaka sebagai topeng? Agar hal tersebut tidak terjadi, tentunya sangat dibutuhkan banyak agent of Islam yang diharapkan mampu menjalankan dan menularkan kebaikan bagi sesamanya.
Semoga dengan membaca tulisan ini dapat menggugah kita sebagai orang Islam agar senantiasa menegakkan dan menjalankan syariat sesuai dengan Qur’an dan hadits yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para ulama. Terutama bagi para orang-orang berpendidikan dan para pengemban amanat organisasi-organisasi yang menggunakan kata Islam pada nama organisasinya.

Jumat, 06 Februari 2015

Pentingnya Memaknai Keadaan dengan Baik



Bahagia merupakan tujuan dari usaha kita di dunia ini. Pekerjaan yang mapan, sesuai dengan keinginan kita harapkan bisa bahagia dengan pekerjaan itu. Keberhasilan dalam usaha kita harapkan bisa membahagiakan diri kita. Harta dikumpulkan sebanyak-banyaknya dengan harapan bisa membuat kita bahagia.
Semua usaha  dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi kadang justru usaha yang dilakukan malah menambah kegelisahan, hasil yang kita peroleh hanya menimbulkan ketidakpuasan, keadaan yang ada pada diri kita hanya menimbulkan penolakan dan  akhirnya kebahagiaan semakin jauh dari kita.
Tidak mengherankan jika usaha malah menambah kesulitan. Banyak orang berusaha tapi tidak mengerti cara mengelola usaha itu agar menjadi sarana memperoleh kebahagiaan, tidak mengerti cara mengelola hasil yang diperoleh agar menjadi modal untuk mencapai kebahagiaan, banyak orang yang tidak mengerti cara memanfaatkan keadaan agar bisa membahagiakan diri kita.
Menyalahkan keadaan bukanlah suatu pilihan. Keadaan yang telah ada tidak akan bisa kita ubah dengan sekejap begitu saja dengan menyalahkan keadaan. Hal seperti itu hanya akan menjadikan kita tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Keadaan seringkali berjalan tidak seperti dengan yang kita harapkan. Jika kita selalu tidak terima dengan keadaan kemudian larut dengan rasa tidak terima dan kemarahan maka siap-siaplah untuk mati dengan kemaraha itu.
Mau tidak mau manusia harus menerima keadaan yang ditakdirkan kepadanya. Ibarat keadaan adalah papan kayu dan manusa adalah paku sedangkan Allah mempunyai palu besar berupa takdir yang akan menancapkan kita di papan. Saat paku itu melawan dengan menyuguhkan ujung yang tumpul dia hanya akan bengkok dan akan diluruskan kembali dengan dipukul dengan palu berkali-kali, semakin sakit lah yang dirasakan paku. Yang dapat dilakukan adalah memperkuat diri agar dapat mudah tertancap pada papan kayu dengan kuat.
Saat keadaan yang terjadi tidak seperti harapan atau bahkan lebih buruk yang dapat kita lakukan adalah memaknai keadaan dengan baik. Jangan sampai diri kita kalah, menyerah dengan keadaan. Sebenarnya yang menentukan bahagia atau tidaknya manusia tergantung pada cara memaknai keadaan. Bukan karena keadaan, karena kita tidak bisa mengendalikan keadaan. Yang dapat kita kendalikan adalah pikiran jadi bahagia atau tidaknya diri kita tergantung cara kita memaknai setiap keadaan dan kejadian yang ada di sekitar kita.
Memaknai keadaan itu dapat digambarkan seperti saat kita membaca buku, yang akan masuk ke dalam otak adalah makna dari susunan huruf yang terangkai menjadi kata-kata dan terjalin menjadi suatu kalimat. Yang akan terserap dalam otak kita adalah makna dari kalimat tersebut bukan wujud huruf-huruf yang tertempel dari media baca kemudian beterbagan masuk otak kita. Jika kita tidak bisa memaknai keadaan berarti bisa kita gambarkan orang yang ingin memahami isi buku tapi tidak dengan membacanya melainkan dengan memasukkan buku tersebut ke mulut kita. Pastinya tidak lebih baik dari membacanya dan ternyata setelah buku itu masuk, tak satu hal pun yang dapat kita pahami dari buku itu.


Kita bisa mengendalikan otak kita dan organ tubuh kita dalam merespon namun kita tidak bisa merencanakan dengan pasti apa yang akan didapatkan oleh panca indra kita saat menjalani kehidupan. Kadang kita sudah menjaga panca indra kita dengan begitu hati-hati dan teliti, namun ternyata kita masih dihadapkan ada hal yang tidak kita harapkan. Misalnya saja di pagi hari kita sudah berniat untuk tidak marah karena sudah diprediksikan bahwa hari ini kita akan berlibur di tempat yang sepi tapi ternyata tidak sengaja kita bertemu dengan orang yang sifatnya sangat menjengkelkan. Jika kita tidak bisa mengendalikan pemaknaan dari sifatnya yang menjengkelkan itu pasti kita akan larut dalam kebencian dan mungkin terjatuh dalam kemarahan. Jika kita sadar bahwa manusia telah diciptakan sebagai kholifah, seharusnya kita tidak mudah menyerah dengan keadaan hingga kita terpuruk dan semakin buruk karea kalah dengan keadaan.
 Perasaan dan keadaan batin kita adalah kita sendiri yang menguasai. Jangan pernah menyerahkannya kepada keadaan, kemudian mengatasnamakan takdir sebagai penentunya berarti kita sama dengan suudzon kepada Allah Yang Maha Menetapkan. Takdir Allah itu hanya akan kita ketahui setelah terjadi karena itu adalah rahasia yang sangat terjaga. Takdir yang telah terjadi bukan berarti menyuruh kita larut dalam keadaan. Masa sekarang itu digunakan untuk mengusahakan takdir yang lebih baik di masa yang akan datang, salah satunya dengan memaknai keadaan dengan baik karena dengan demikian masa depan bisa menjadi lebih baik.