Dalam kehidupan ini pasti kita akan berhadapan
dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial keberadaan manusia lain tentulah
sangat kita butuhkan. Dari hanya sekedar pemenuh kebutuhan sosialisasi, teman
berkomunikasi, meminta bantuan, sampai sebagai sasaran atau sarana aktualisasi
diri. Semua itu tak lepas dari hubungan antar manusia satu dengan yang lainnya.
Setiap manusia diciptakan unik, berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Sifat manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya. Demikian
juga dengan keadaan fisik maupun status sosial, antara satu dengan yang lain
pasti memiliki pencapaian yang berbeda. Perbedaan-perbendaan itu jika tidak disikapi
dengan baik maka akan terjadi gesekan-gesekan yang akan membuat yang lain
merasa tidak nyaman. Terlebih perbedaan pendidikan dan pengetahuan. Hal itu
akan sangat mempengaruhi cara orang dalam menghadapi perbedaan.
Sebagai orang yang berpengetahuan tentulah kita
harus menyikapi perbedaan dengan baik. Apalagi sebagai ummat Islam yang
berpedoman dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Kita diajarkan untuk selalu
berbuat baik dalam keadaan apa saja, dimana saja dan kapan saja. Walau begitu
kadang kita tidak bisa menolak jika ada orang yang beragama tapi ternyata tidak
bisa mengendalikan dirinya. Akhirnya ejekan, hinaan bahkan fitnahan mungkin
saja menimpa kita. Ejekan, hinaan atau fitnahan pasti akan membuat kita marah
jika kita tidak bisa mengendalikan diri. Diejek atau dihina orang dengan
kenyataan yang ada saja bisa marah, apa lagi yang tidak sesuai dengan
kenyataannya?
Marah atau membalasnya dengan balasan serupa
bukanlah solusi. Marah tidak akan menyelesaikan masalah, salah-salah malah akan
menambah masalah. Membalasnya dengan ejekan, hinaan atau fitnahan serupa hanya
akan membuat saling membenci dan hubungan antar sesama manusia akan semakin jauh.
Jika hal ini diteruskan tentu permasalahan yang terjadi akan semakin melebar
dan tidak ada hentinya. Untuk menyelesaikannya kita perlu melakukan cara lain
yang lebih baik untuk kemaslahatan bersama. Di sini kita akan membahas sedikit
cara mengaatasi hinaan dengan baik.
***
Pertama, diamlah. Diam baik dalam perbuatan,
perkataan maupun mimik muka, diamlah dalam raut wajah yang tetap baik dan
pikiran positif. Diam dalam menghadapi hinaan orang merupakan cara yang paling
ampuh untuk menghindarkan diri kita dari membalas perbuatannya. Agar kita tidak
terjerumus dalam buruknya perkataan yang dilandasi nafsu amarah, agar kita tidak
menusuk hati orang dengan kata-kata. Memang, diam itu menunjukkan kelemaha kita
untuk melawan serangan orang lain. Tapi, sebenarnya diam bukan berarti lemah,
tapi diam itu berarti kita kuat untuk menahan amarah kita. Untuk menunjukkan
bahwa ke-diam-an kita bukan kelemahan kita maka perlu kita buktikan kebenaran
tindakan kita, karena kebenaran itu adalah kekuatan.
Jika pernah membaca tulisan saya sebelumnya tentang
pasrah dan sabar maka diam merupakan tanda bahwa kita pasrah kepada keadaan,
jika kita pasrah dengan keadaan bisa-bisa orang lain terpancing untuk memberi
hinaan serupa kepada kita. Pastinya kita tidak ingin hal tersebut menimpa kita.
Supaya hal tersebut tidak terjadi maka kita perlu mengadakan perbaikan. Baik perbaikan
diri sendiri maupun perbaikan yang tertuju kepada keadaan (orang itu tidak
menghina lagi). Untuk dapat melakukan perbaikan maka lakukan cara kedua.
Kedua, muhasabah. Muhasabah atau introspeksi diri berarti
menilai diri sendiri dari berbagai aspek sudut pandang, apakah yang salah
dengan diri saya? Dalam hal ini, tanyakan lepda diri sendiri apa yang salah
dengan diri saya sehingga dia menghina saya? Hal ini akan membuat kita menjadi
orang yang yang lebih sadar diri dan membuat reaksi marah kita terhadap hinaan
semakin lambat, seperti yang kita ketahui juga Rasulullah itu adalah orang paling
lambat marahnya dan kalau marah paling cepat redanya.
Saat introspeksi ternyata hinaan itu karena
kesalahan kita sendiri beraarti kita harus segera memperbaiki kesalahan
tersebut, agar hinaan itu tidak berlanjut dan memperburuk diri kita sendiri. Tidak
perlu sakit hati lagi karena hinaan itu sebenarnya kritik bagi kita agar kita
bisa lebih baik lagi. Kalaupun tadi menganggap itu sebagai hinaan karena tadi kita
yang belum tau karena hati kita sudah sakit duluan dengan kritikan itu. Sekarang
tak perlu sakit hati lagi, yang perlu dilakukan adalah melakukan perbaikan. Seandainya
hinaan itu bukan karena kesalahan kita maka kita perlu melakukan cara
selanjutnya.
Ketiga, cari alasan dia dalam menghina kita. Sebenarnya,
kenapa dia menghina saya? Mencari alasannya dalam menghina bukan berarti
mencari kesalahan orang lain. Tapi untuk bisa lebih memahami orang lain. Karena
alasan orang menghina kita itu tentu berbeda-beda. Ada yang menghina karena
tidak tau diri kita, karena iri, ingin diperhatikan, sifatnya yang merasa
paling benar, atau takut posisinya terancam. Maka untuk menghadapi mereka perlu
cara yang berbeda-beda juga, tergantung alasan dan kecenderungan mereka. Biasanya
orang seperti ini menghina dengan hinaan yang tidak sesuai dengan kenyetaan,
maka agar dia tidak menghina terus-menerus kita cukup membuktikan bahwa hinaan
itu tidak benar. Jika kita sudah benar tapi dia tetap menghina maka bicarakanlah
secara privat. Apabila dia tidak bisa diajak bicara maka diamlah, orang lain
tidak akan ikut memberikan hinaan itu kepadamu dan lakukan cara berikutnya.
Keempat, maafkanlah. Memaafkan adalah cara yang
dilakukan oleh para penyayang. Maafkanlah dan lupakanlah kemudian bukalah
komunikasi dengan dia secara baik. Dengan memaafkan berarti kita menyayangi
orang yang menghina kita, karena jika kita dihina kemudian sakit hati maka
selama kita sakit hati selama itu pula yang menghina kita mendapatkan dosa. Jika
kita membiarkan saudara kita dalam dosa maka hatinya akan semakin gelap dan orang
yang hatinya gelap akan semakin mudah berbuat dosa yang lain, akhirnya yang
merasakan imbas dari dosanya semakin banyak, semakin banyak orang yang resah
karenanya akhirnya jalannya ke surga semakin sempit sedangkan jalannya keneraka
semakin luas. Padahal Rasulullah pernah bersabda “Barang siapa yang tidak
menyayangi maka dia tidak disayangi (Allah).” Oleh karena itu menjadi seorang
pemaaf merupakan pilihan yang membawa kemaslahatan bagi ummat dan bentuk kasih
sayang yang sangat mulia.