Tahukah kita bahwa waktu itu adalah anugerah Allah yang sangat besar.
Kita diberi waktu untuk hidup, kita hidup karena diberi waktu untuk beribadah (mengabdi), kita diberi waktu untuk beribadah supaya kita memiliki rasa bertanggng jawab, kita diberi diberi tanggung jawab lalu kita diberi waktu untuk menunaikan tanggung jawab tersebut.
Kita pelu ingat. Di setiap waktu itu ada kewajiban-kewajiban yang harus kita hadapi dan selesaikan sebagai pertanggungjawaban atas diri kita sendiri.
Tapi mengapa kita sering meremehkan waktu tersebut? Apakah kita tidak mendengar jam itu betbisik dan bertanya kepada kita “Apa yang seharusnya Kamu lakukan sekarang?” apakah kita tidak berusaha menjawab? Pura-pura tidak mendengar? Atau bahkan benar-benar tidak mendengar sama sekali?
Kita sering mendengar dari pepatah-pepatah dan syair-syair maupun kata-kata bijak tentang pentingnya dan berharganya waktu.
Benar sekali jika dikatakan bahwa waktu itu jauh lebih berharga dari pada harta benda. Kita pasti pernah kehilangan harta benda, apakah itu uang, maupun barang dengan cara lenyap maupun rusak. Semua itu bisa kita cari penggantinya. Uang yang hilang, kiya bisa mencarinya lagi bahkan lebih banyak, barang yang hilang pun bisa kita mencari penggantinya lagi dengan barang yang sama atau bahkan dengan yang lebih bagus.
Tapi kalau waktu yang hilang? Kemana kita akan mencari gantinya lagi? Waktu itu terus berjalan dan yang sudah berlalu tidak mungkin akan bisa kembali lagi. Kalau mungkin kesempatan untuk melakukan sesuatu bisa kita cari lagi, pasti tidak akan seperti kesempatan yang datang di masa lampau. Kalau pada kesempatan yang telah lalu kita gagal paling tidak akan bisa menjadi pelajaran dan latihan untuk kita. Kalau kita berhasil maka sekarang kita mungkin sudah lebih berhasil lagi. Tapi jika kita siakan, kesempatan itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perbaikan untuk kita.
Ingatlah, Allah memberi kita waktu bersama tanggung jawab yang harus kita penuhi.
Selasa, 21 Mei 2013
Mari Belajar Bersedekah
Bagi para calon jutawan dan para orang yang sudah menjadi jutawan.
Adakah kita sudah bisa menjaga amanat Allah yang berupa harta?
Cobalah renungkan sejenak hal berikut!
Kita sekarang memiliki uang Rp. 10.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 1.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita sekarang memiliki uang Rp. 100.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 10.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Dengan jumlah sedemikian, mungkin kita akan bisa memberikannya. Itu bukan suatu jumlah yang berat dan besar di mata kita dan dimata umum. Tapi jika sekarang jumlah tersebut ditambah satu nol saja.
Kita memiliki uang Rp. 1.000.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 100.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita pasti akan pikir-pikir untuk memberikannya. Padahal perbandingannya sama dengan jumlah yang sebelumnya. Dengan jumlah sedemikian pula, jumlah sisa yang masih kita miliki juga lebih besar. Tapi mengapa jumlah ini lebih berat?
Tanyalah kepada diri kita!
Sekarang coba, jika nominal tersebut ditambah satu nol lagi. Apakah kita akan memberikan, dengan perbandingan yang sama (10%). Itu bukan jumlah yang terlalu besar, kan?
Selanjutnya, apakah kita sudah bisa menjaga amanah Allah yang berupa harta?
sekali lagi,
Tanyalah kepada diri kita!
Adakah kita sudah bisa menjaga amanat Allah yang berupa harta?
Cobalah renungkan sejenak hal berikut!
Kita sekarang memiliki uang Rp. 10.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 1.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita sekarang memiliki uang Rp. 100.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 10.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Dengan jumlah sedemikian, mungkin kita akan bisa memberikannya. Itu bukan suatu jumlah yang berat dan besar di mata kita dan dimata umum. Tapi jika sekarang jumlah tersebut ditambah satu nol saja.
Kita memiliki uang Rp. 1.000.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 100.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita pasti akan pikir-pikir untuk memberikannya. Padahal perbandingannya sama dengan jumlah yang sebelumnya. Dengan jumlah sedemikian pula, jumlah sisa yang masih kita miliki juga lebih besar. Tapi mengapa jumlah ini lebih berat?
Tanyalah kepada diri kita!
Sekarang coba, jika nominal tersebut ditambah satu nol lagi. Apakah kita akan memberikan, dengan perbandingan yang sama (10%). Itu bukan jumlah yang terlalu besar, kan?
Selanjutnya, apakah kita sudah bisa menjaga amanah Allah yang berupa harta?
sekali lagi,
Tanyalah kepada diri kita!
Minggu, 14 April 2013
Kisah Sopir Taksi
Suatu hari seorang sopir taksi mendapat penumpang seorang wanita cantik yang untuk pergi ke kantor. Perjalanan begitu lancar, jalanan tampak tidak terlalu ramai. Ketika sampai di perempatan dengan lampu lalulintasnya, si sopir dan wanita tersebut menemui lampu merah, akhirnya si sopir menghentikan laju taksinya. Tapi tiba-tiba dari belakang terasa ada hentakan besar. Benar saja, setelah si sopir dan wanita tersebut keluar ternyata ada truk di belakang yang menabrak taksinya. Terlihat orang-orang di sekitar kejadian itu menghampiri dan menyalahkan si sopir truk tersebut.
Tanpa babibu, wanita yang menumpangi taksi itu mengomel tanpa arah. Setelah wanita penumpang taksi itu merasa agak puas mengomeli si sopir truk, dia bertanya kepada si sopir taksi yang terlihat hanya diam saja.
“Pak, taksinya ditabrak kok malah diam saja sih?”
Dalam posisi ini si sopir taksi adalah pihak yang paling dirugikan, karena taksi yang dikemudikannya itu adalah taksi sewaan yang harus dipertanggungjawabkannya karena tidak berasuransi. Tapi sopir taksi itu tidak terlihat marah sama sekali.
Sopir taksi tersebut akhirnya menjawab, sambil menggantungkan senyuman di wajahnya, sopir taksi itu mengatakan “tadi pagi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan berdo’a kepada Tuhan, ‘Ya Allah, hari ini aku ingin menjadi orang baik. Aku tidak ingin mengotori hatiku dengan rasa iri, dengki, sombong, marah dan malas.’ Dan demikian juga aku berjanji pada diriku sendiri.”
Apa yang anda dapat dari cerita ini?
Tanpa babibu, wanita yang menumpangi taksi itu mengomel tanpa arah. Setelah wanita penumpang taksi itu merasa agak puas mengomeli si sopir truk, dia bertanya kepada si sopir taksi yang terlihat hanya diam saja.
“Pak, taksinya ditabrak kok malah diam saja sih?”
Dalam posisi ini si sopir taksi adalah pihak yang paling dirugikan, karena taksi yang dikemudikannya itu adalah taksi sewaan yang harus dipertanggungjawabkannya karena tidak berasuransi. Tapi sopir taksi itu tidak terlihat marah sama sekali.
Sopir taksi tersebut akhirnya menjawab, sambil menggantungkan senyuman di wajahnya, sopir taksi itu mengatakan “tadi pagi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan berdo’a kepada Tuhan, ‘Ya Allah, hari ini aku ingin menjadi orang baik. Aku tidak ingin mengotori hatiku dengan rasa iri, dengki, sombong, marah dan malas.’ Dan demikian juga aku berjanji pada diriku sendiri.”
Mari Berikhtiyar
Salah satu hal yang menyebabkan manusia tidak mau berusaha, putus asa dan menganggap bahwa ikhtiyar itu tidak perlu dilakukan adalah
Manusia Belum Memahami Perintah Allah
Dalam dunia ini Allah telah memberikan patokan-patokan kehidupan bagi
manusia yaitu syari’at yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Keduanya berisi tentang berbagai perintah, dari perintah untuk
menetapkan diri dalam Islam dengan menjalankan rukun Islam dan rukun
iman sampai perintah mencari rizki yang baik. Dan berisi tentang
berbagai larangan, dari larangan menyekutukan Allah sampai larangan
melupakan kehidupan dunia.
Percaya akan adanya takdir merupakan bagian dari rukun iman dan mempercayai seluruh yang ada dalam rukun iman merupakan perintah. Setiap manusia tidak dikatakan beriman yang sempurna jika tidak mempercayai adanya takdir. Takdir itu memang benar adanya dan harus kita yakini keberadaannya sebagai hal yang nyata. Tapi, tidak berarti kalau kita percaya akan adanya takdir kemudian kita pasrahkan semua yang ada dalam kehidupan dunia ini terhadap takdir tanpa ikhtiyar.
Iktiyar juga merupakan perintah dari Allah yang harus kita jalani. Adanya hukum sebab-akibat di dunia ini juga harus kita perhatikan. Allah telah menciptakan akibat agar kita mau menepati sebab-sebab. Dan pengetahuan kita tentang sebab-akibat ini merupakan karunia Allah yang harus kita syukuri dengan mempergunakannya sebagai bahan pertimbangan bagi kita dalam bergerak.
Sebagaimana Allah Yang Maha Lembut menciptakan siang dan malam dengan proses yang begitu indah. Dan dalam pergantian siang dan malam itu agar manusia menggunakannya dengan sesuai. manusia juga diperintah untuk memperoleh hal yang diinginkan dengan berikhtiyar hingga memeroleh keinginannya. Firman Allah dalam surat Al-Furqon yang artinya : “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”
Percaya akan adanya takdir merupakan bagian dari rukun iman dan mempercayai seluruh yang ada dalam rukun iman merupakan perintah. Setiap manusia tidak dikatakan beriman yang sempurna jika tidak mempercayai adanya takdir. Takdir itu memang benar adanya dan harus kita yakini keberadaannya sebagai hal yang nyata. Tapi, tidak berarti kalau kita percaya akan adanya takdir kemudian kita pasrahkan semua yang ada dalam kehidupan dunia ini terhadap takdir tanpa ikhtiyar.
Iktiyar juga merupakan perintah dari Allah yang harus kita jalani. Adanya hukum sebab-akibat di dunia ini juga harus kita perhatikan. Allah telah menciptakan akibat agar kita mau menepati sebab-sebab. Dan pengetahuan kita tentang sebab-akibat ini merupakan karunia Allah yang harus kita syukuri dengan mempergunakannya sebagai bahan pertimbangan bagi kita dalam bergerak.
Sebagaimana Allah Yang Maha Lembut menciptakan siang dan malam dengan proses yang begitu indah. Dan dalam pergantian siang dan malam itu agar manusia menggunakannya dengan sesuai. manusia juga diperintah untuk memperoleh hal yang diinginkan dengan berikhtiyar hingga memeroleh keinginannya. Firman Allah dalam surat Al-Furqon yang artinya : “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”
Sabtu, 30 Maret 2013
PESAN ORANG TUA KEPADA ANAKNYA
لا اله الّا الله الملك الحقّ المبين
محمّد رسول الله صادق الوعد الأمين
Mendengar dua kalimat tersebut membuatku teringat akan masa kecilku. Ibuku sering membacakannya dengan nada lagu jawa ala Ida Laila yang mendayu dan menyentuh kalbu sambil menimangku saat aku menangis. Begitu pula yang dilakukan beliau saat menimang anak-anak lain yang sedang menangis.
Aku baru tersadar ketika aku berada di atas dua rodaku yang sedang ku kayuh. Dalam dua kalimat tersebut mengandung pesan yang luar biasa, yang ingin disampaikan kepadaku dan agar tertanam dengan kuat dalam jiwaku sejak kecil. Itu adalah pesan kehidupan untuk menjaga iman, islam dan ihsan.
“Anakku, mengapa engkau menangis?
Apa yang engkau keluhkan sehingga engkau menangis?
Janganlah engkau menangis!
Ingatlah! Kita mempunyai Tuhan, Allah.
Berbahagialah!
Dia selalu setia menemanimu dimana saja, saat susah dan saat senang.
Dia Yang Merajai alam semesta ini.
Dialah tempatmu bersandar dan Dia akan memenuhi semua kebutuhanmu.
Janganlah bersedih!
Jalankanlah perintah-perintah-Nya dan tinggalkanlah larangan-larangan-Nya!
Ini adalah berita dan pesan dari Nabi Muhammad panutan kita.
Dia juga selalu setia menemanimu dimana saja, saat susah dan saat senang.
Bergembiralah!
Janji-janjinya semua benar, karena dia adalah orang yang paling jujur.
Sudahlah, anakku. Cukupkanlah Engkau menangis!”
Apa yang engkau keluhkan sehingga engkau menangis?
Janganlah engkau menangis!
Ingatlah! Kita mempunyai Tuhan, Allah.
Berbahagialah!
Dia selalu setia menemanimu dimana saja, saat susah dan saat senang.
Dia Yang Merajai alam semesta ini.
Dialah tempatmu bersandar dan Dia akan memenuhi semua kebutuhanmu.
Janganlah bersedih!
Jalankanlah perintah-perintah-Nya dan tinggalkanlah larangan-larangan-Nya!
Ini adalah berita dan pesan dari Nabi Muhammad panutan kita.
Dia juga selalu setia menemanimu dimana saja, saat susah dan saat senang.
Bergembiralah!
Janji-janjinya semua benar, karena dia adalah orang yang paling jujur.
Sudahlah, anakku. Cukupkanlah Engkau menangis!”
Sering aku terharu saat mendengarkannya. Apakah kelak aku masih bisa meneruskan pesan ini kepada anak-anakku sedangkan kehidupan dunia ini semakin rumit dan membuat manusia terlena. Apakah aku juga akan terlena dengan dunia? Kemudian aku lupa akan pentingnya memberikan kasih saying dan membentuk kepribadian anak-anakku.
Bersyukurlah Kalian semua yang sekarang hidup dalam keimanan, memegang teguh agama Islam. Tidak ada kenikmatan yang lebih besar dari iman Islam dan selanjutnya disempurnakan dengan nikmatnya dalam balutan Ihsan.
Selanjutnya, mari kita berterima kasih kepada kedua orang tua kita. Karena keduanya kita bisa berada di dunia ini dan hidup sampai sekarang. Meski siapapun yang merawat kita. Kita yang masih hidup ini jauh lebih beruntung dari pada mereka yang mati dalam kandungan ibu mereka. Ibu kita sudah mau melahirkan kita dengan bagaimanapun keadaannya.
Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang mau merenung dan bersyukur.
Jumat, 29 Maret 2013
Mari Belajar Bersedekah
Bagi para calon jutawan dan para orang yang sudah menjadi jutawan.
Adakah kita sudah bisa menjaga amanat Allah yang berupa harta?
Cobalah renungkan sejenak hal berikut!
Kita sekarang memiliki uang Rp. 10.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 1.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita sekarang memiliki uang Rp. 100.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 10.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Dengan jumlah sedemikian, mungkin kita akan bisa memberikannya. Itu bukan suatu jumlah yang berat dan besar di mata kita dan dimata umum. Tapi jika sekarang jumlah tersebut ditambah satu nol saja.
Kita memiliki uang Rp. 1.000.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 100.000,- dari kita.
Adakah kita sudah bisa menjaga amanat Allah yang berupa harta?
Cobalah renungkan sejenak hal berikut!
Kita sekarang memiliki uang Rp. 10.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 1.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita sekarang memiliki uang Rp. 100.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 10.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Dengan jumlah sedemikian, mungkin kita akan bisa memberikannya. Itu bukan suatu jumlah yang berat dan besar di mata kita dan dimata umum. Tapi jika sekarang jumlah tersebut ditambah satu nol saja.
Kita memiliki uang Rp. 1.000.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 100.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita pasti akan pikir-pikir untuk memberikannya. Padahal perbandingannya sama dengan jumlah yang sebelumnya. Dengan jumlah sedemikian pula, jumlah sisa yang masih kita miliki juga lebih besar. Tapi mengapa jumlah ini lebih berat?
Tanyalah kepada diri kita!
Sekarang coba, jika nominal tersebut ditambah satu nol lagi. Apakah kita akan memberikan dengan perbandingan yang sama (10%). Itu bukan jumlah yang terlalu besar, kan?
Selanjutnya, apakah kita sudah bisa menjaga amanah Allah yang berupa harta?
Kita pasti akan pikir-pikir untuk memberikannya. Padahal perbandingannya sama dengan jumlah yang sebelumnya. Dengan jumlah sedemikian pula, jumlah sisa yang masih kita miliki juga lebih besar. Tapi mengapa jumlah ini lebih berat?
Tanyalah kepada diri kita!
Sekarang coba, jika nominal tersebut ditambah satu nol lagi. Apakah kita akan memberikan dengan perbandingan yang sama (10%). Itu bukan jumlah yang terlalu besar, kan?
Selanjutnya, apakah kita sudah bisa menjaga amanah Allah yang berupa harta?
sekali lagi,
Tanyalah kepada diri kita!
Tanyalah kepada diri kita!
Rabu, 27 Maret 2013
Mari Berpikiran Positif 7
Kebahagiaan adalah kita sendiri yg menentukan,
Karena,
Begitu besar pemberian Allah untuk mencukupi kita utk bisa hidup bahagia d dunia.
Saat bisa memaafkan yg mendzolimi dia akan datang,
Saat kita percaya akan amanah dia datang,
Saat berpikir positif dia datang.
Saat bisa menunaikan kewajiban dia datang,
Kebahagiaan baru yang datang dari sekeliling kita merupakan tambahan
Begitu besar pemberian Allah untuk mencukupi kita utk bisa hidup bahagia d dunia.
Saat bisa memaafkan yg mendzolimi dia akan datang,
Saat kita percaya akan amanah dia datang,
Saat berpikir positif dia datang.
Saat bisa menunaikan kewajiban dia datang,
Kebahagiaan baru yang datang dari sekeliling kita merupakan tambahan
yang menuntut kita untuk bersyukur.
Mari belajar bersyukur,
Mari belajar bersyukur,
Semoga kita selalu bahagia dlm hidup.
Mari Berpikiran Positif 6
Kehidupan di dunia ini bagai pelangi. Berwarna-warni.
Ada yg ini ada yg itu.
Berbagai macam peran jalankan.
Kalau ada yg mencela kita, sinis, hasud, dengki ataupun dengan terang-terangan menghina kita, ya itu memang tugasnya.
Tetaplah berbuat baik kepadanya, dia adalah teman yg melatih kesabaran kita.
Begitu pula jika ada yg baik kepada kita, memuji, menyanjung, senantiasa membantu kita, itu adalah teman kita yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.
Ada yg ini ada yg itu.
Berbagai macam peran jalankan.
Kalau ada yg mencela kita, sinis, hasud, dengki ataupun dengan terang-terangan menghina kita, ya itu memang tugasnya.
Tetaplah berbuat baik kepadanya, dia adalah teman yg melatih kesabaran kita.
Begitu pula jika ada yg baik kepada kita, memuji, menyanjung, senantiasa membantu kita, itu adalah teman kita yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.
Tetaplah berpikir positif, dengan demikian kita telah baik dengan diri sendiri.
Sabtu, 23 Maret 2013
Mari Berpikiran Positif 5
Saat kita sudah merasa mandiri dan mampu menghadapi tantangan
Saat itulah kita membutuhkan lebih banyak orang untuk mengingatkan keberadaan kita
Saran, kritik, gunjingan, bahkan cacian dari orang lain merupakan pengingat yang paling sulit kita terima.
Ingatlah, itu berarti bantuan Tuhan agar kita mau mengoreksi kekurangan diri kita
Dan kita tidak hidup sendirian di dunia ini.
Saat itulah kita membutuhkan lebih banyak orang untuk mengingatkan keberadaan kita
Saran, kritik, gunjingan, bahkan cacian dari orang lain merupakan pengingat yang paling sulit kita terima.
Ingatlah, itu berarti bantuan Tuhan agar kita mau mengoreksi kekurangan diri kita
Dan kita tidak hidup sendirian di dunia ini.
Jagalah pikiran positif terhadap setiap orang baik di sekeliling kita.
Mari Berpikiran Positif 4
Jika Anda ingin belajar menjadi orang baik,
Cobalah katakan kepada diri Anda
"Hari ini, aku ingin menjadi orang baik.
Aku tidak ingin mengotori hatiku dengan rasa marah, sombong, dengki, hasud dan malas.
Aku ingin bersikap ramah, santun, penyabar dan penyayang.
Ya Allah, Berikan Aku kekuatan untuk menjalaninya
karen Engkaulah Yang Berkuasa menggerakkan aku untuk selalu berbauat baik."
Cobalah katakan kepada diri Anda
"Hari ini, aku ingin menjadi orang baik.
Aku tidak ingin mengotori hatiku dengan rasa marah, sombong, dengki, hasud dan malas.
Aku ingin bersikap ramah, santun, penyabar dan penyayang.
Ya Allah, Berikan Aku kekuatan untuk menjalaninya
karen Engkaulah Yang Berkuasa menggerakkan aku untuk selalu berbauat baik."
Kemudian sepakati dan komitmenlah dengan perkataan Anda.
Semesta ini juga akan bersepakat dengan Anda untuk membantu proses Anda.
Minggu, 17 Maret 2013
Mari Berpikiran Positif 3
jangan katakan "tidak" untuk kemungkinan2 baik
tapi katakanlah "belum" karena selama masih hidup mungkin saja Allah memberikan kemungkinan baik itu kpada kita,
karena itu satu bentuk harapan akan pemberian kebaikan dari Allah
karena dg begitu kita tidak menunjukkan keputusasaan.
dan Allah tdk menyukai orang yg putus asa akan kebaikan.
tapi katakanlah "belum" karena selama masih hidup mungkin saja Allah memberikan kemungkinan baik itu kpada kita,
karena itu satu bentuk harapan akan pemberian kebaikan dari Allah
karena dg begitu kita tidak menunjukkan keputusasaan.
dan Allah tdk menyukai orang yg putus asa akan kebaikan.
Semoga kita senantiasa optimis akan Rahmat Allah,
Dilarang Memakai Blangkon
Sore di desa
Cipayung Kecamatan Cisarua Bogor tampak terlihat lebih gelap, karena memang
letaknya di tertutup gunung-gunung yang lebih tinggi hingga menutupi
tenggelamnya matahari. Seperti biasa udara dingin pegunungan tidak pernah absen
untuk menyellimuti, apa lagi ini adalah musim penghujan. Hujan rintik-rintik
pun menambah rasa dingin. Suara decak kaki silih berganti menuju satu ruangan
yang kami fungikan sebagai musholla untuk menunggu waktu sholat maghrib.
Menata posisi
sendal dengan begitu rapi di depan pintu merupakan ritual yang pasti dilakukan
sebelum masuk ke musholla. Di sini semua serba rapi, jangankan sampah yang
berserakan. Buku-buku, tempat tidur bahkan sendal pun di tata dengan rapi. Tak
ada hukuman di sini. Semua dilakuka dengan kesadaran masing-masing, kesadaran
akan kedisiplinan, kerapian dan keindahan sebagai calon mahasiswa di Jamiah
Hadramaut.
Suara-suara nan
syahdu bersahut-sahutan. Terdengar dari santri-santri yang mengisi waktu untuk
menunggu azan dengan membaca Al-Qur’an. Tak lama berselang Yusuf berdiri dengan
mengangkat kedua tangannya mulai bersuara dengan lantag dan merdunya. Azan
dikumandangkan, santri-santri lain pun menghentikan bacaan mereka untuk
mendengarkanya. Ustad abdullah, ustad Kamal dan ustad Siroj sudah berdiri di
belakang para santri, sholat maghrib segera dimulai.
Dalam heningnya
malam di pegunungan, diiringi gemericik suara air yang mendarat di mana saja,
kalimat takbir diucapkan menandakan sholat sudah dimulai. Paduan suara
gemericik air yang tumpah dari induknya, suara angin yang menerpa dedaunan,
suara-suara hewan malam bagai sebuah alunan musik brainwave alami yang
mengiringi setiap lafal doa, menambah kehusyuan dalam kemesraan bersama Sang
Khaliq. Sesekali angin masuk menerobos jendela meniupkan hawa dingin memecah
kehusyuan, namun tak sesekali mengusik kemesraan itu.
Seperti biasa,
setelah sholat kami membaca wirid-wirid sambil menunggu sholat isya. Gerimis
pun sudah mulai berhenti, tersisa suara angin yang membelai segala yang disentuhnya.
Membuat suara suara lembut, mengisi setiap
kesunyian yang sesekali muncul di sela-sela gelegar wirid kami. Hingga
sholat isya selesai.
Sebelum berdiri
untuk melakukan ba’diyah isya’, Ustad Abdullah sebagai imam sholat segera
membalik badan menghadap penuh ke para jama’ah.
“Ustad Siraj,
Ustad Kamal, silakan maju ke depan” kata ustad Abdullah dengan gayanya yang
santun.
“Semua
berkumpul, mendekat ke kami. Termasuk yang bertugas sebagai wadifah.”
Hati kami
bertanya-tanya, tidak biasanya ustad abdullah mengumpulkan kami seperti ini.
Bahkan yang bertugas sebagai wadifah pun disuruh ikut dulu. Biasanya kalau
dikumpulkan seperti ini berarti akan ada acara saja, tapi kami tidak mendengar
bahwa akan ada acara apa-apa.
“Assalamu’alaikum
warohmatullohi wabaokatuh” Kata Ustad Abdullah membuka pembicaraan dengan
Santri-santrinya. Aku dan teman-teman pun menjawab serentak bak sekelompok regu
koor yang kompak dan merdu memecah segala kesunyian diruang itu.
“Kalian memakai
blangkon?” dengan nada bertanya beliau melontarkan kata-kata itu. Dalam hati
aku bingung, mungkin teman-teman juga sama bingungnya dengan aku.
“Kami tidak ada
yang memakai blangkon?” Pernyataanku dalam hati.
“Lepas blangkon
kalian!” Kata Ustad Abdullah sekali lagi. Dan perkataan itu membuat aku semakin
bingung karena kami benar benar tidak ada yang memakai blangkon.
“Kalian tahu
blangkon? Topi adat jawa. Depannya halus, dibelakangnya ada bundelan atau
benjolan. Depannya baik, santun, taat, tapi di belakang, hatinya grundel,
memberontak, tidak menerima dengan keadaan.” Sejenak beliau diam. Melemparkan
pandangannya yang tetap teduh kepada semua santri-santrinya.
“Di depan kami,
para ustad, Kalian baik, berbahasa Arab dengan baik, tapi kalau kami tidak ada
kalian berbahasa dengan bahasa sesuka kalian sendiri. Kami mendengar itu.
Ingat! Kalian itu adalah calon mahasiswa di Yaman, di sana bahasa yang
digunakan bahasa apa?”
“Bahasa Arab”
Jawab kami serentak.
“Bahasa
pengantar yang digunakan dalam belajar di sana juga Bahasa Arab. Kalau tidak
kalian biasakan dari sekarang, di sana kalian akan ketinggalan. Kami tidak akan
memberi hukuman kepada kalian, kami harap semua itu tumbuh dari kesadaran
kalian masing-masing, kesadaran akan ketaatan, kedisplinan dan kebutuhan
terhadap ilmu.” Lanjut Ustad Abdullah menjelaskan keprihatinannya.
Sejenak kening
terasa menjeda petuah-petuah Ustad Abdullah kepada santri-santrinya.
“Tolong itu
diingat dan ditanam dalam hati Kalian. Selanjutnya setelah ini Kalian bisa
makan malam. Tapi sebelumnya mari sholat ba’diyah dulu. Assalamualaikum
warohmatullahi wabarokatuh.” Akhir dari petuah beliau.
***
Saatnya makan
malam. Kami bersegera keluar dari musholla. Kaki-kaki yang menyagga perut
lapar, satu persatu mencari sendalnya dari barisannya tadi. Sendal-sendal yang
tertata rapi tadi pun nampak sudah agak acak-acakan, tersisa sendal
santri-santri yang masih husyu di musholla. Kami para pendengar suara perut,
termasuk aku langsung menuju satu ruang di bawah tangga yang telah disediakan
khusus sebagai tempat untuk makan para santri.
Sedangkan para petugas wadifah langsung ke dapur untuk mengambil
makanan.
Sambil menunggu
petugas wadhifah menyiapkan makan, sejenak kami hanya terdiam dan saling
mengintai pandangan satu sama lain. Hingga Hafid masuk mengalihkan pandangan
kami.
“Kalian dengar
kata Ustad Abdulah tadi?” Kata Hafid dengan bahasa arabnya yang fasih, untuk
memastikan. Mungkin karena dia adalah santri yang paling tua dan paling lama di
sini, dia merasa punya tanggung jawab atas kekacauan bahasa kami siang tadi.
“Tahu tidak, kisalahan
kita apa?” Sahut Syihab, melempar pertanyaan kepeda kami semua.
“Emangnya apa?”
Tanya David, santri paling muda di sini.
Aku hanya diam,
tak bicara sepatah katapun. Aku mengerti kesalan kami hingga ustad Abdullah
berbicara seperti itu, namun dalam kelabunya hati, aku hanya diam. Aku pikir
mereka semua pun pasti menyadari tentang yang dibicarakan Ustad Abdullah tadi.
Jadi aku tidak perlu banyak bicara tentang itu. Ternyata ada yang belum tahu. Biarlah
kesalahan itu telah terjadi, tidak perlu dibicarakan, sekarang tinggal
memperbaiki kesalahan itu.
“Itu karena
tadi siang waktu di kamar kita cerita kesana-kemari dengan bahasa Indonesia.
Mungkin ustad abdullah mendengar itu.” Kata Magfir.
“Iya, ya. Kamar
kita kan di atas kamar ustad Abdullah.” Tanggap David.
“Ya, dulu kata
ustad abdullah kan salah-salah sedikit tidak apa-apa. Yang penting kita sudah
berusaha dan sedikit demi sedikit memperbaikinya. Kita di sini sama-sama
belajar.” Terang Afif.
“Hai, Kawan.
Benar sekali kata ustad abdullah tadi. Kalau kita tibak membiasakan berbahasa
arab dari sekarang, kita akan ketinggalan.” Kata malik dengan logat
gorontalonya yang has, sambil membagi pandanyannya kepada kita semua.
“Ah, biar saja.
Aku mungkin tidak akan bisa berangkat bersama Kalian.” Aku merajuk dalam hati. Aku
tidak mempedulikan semua itu, mungkin sebentar lagi aku akan mengundurkan diri
karena berbagai hal yang kalian mungkin juga tidak akan mengerti.
Indahnya Memaafkan
Ketika aku juga mendapat masalah dengan seseorang, aku ingattentang percakapanku dengan seorang teman di facebook yang juga pernah curhat tentang masalah yang dirasakannya.
• Conversation via Facebook started January 4
IKHWAH : k'.........!!!
Ikhwan : ada yg bisa dibantu?
IKHWAH : d4.......k' btuh pngob4t4n..!!
Ikhwan : perlu obat apa?
IKHWAH : obt htie.......;(!!!
Ikhwan : nek obat hati, tanya pak yai...,
IKHWAH : kq gtu...!!q k4n pngenny4 kk' yg ng4sih ob4t:p..
Ikhwan : sakit yang gimana?
IKHWAH : trtusuk oleh pis4u keh4ncur4n di ms4 l4lu.....;(;(!!
Ikhwan : wadowh, parah ndak tu?
IKHWAH : 4gk2 k' dl3mz.........!!;(;(
Ikhwan : ucapkan "استغفر الله الغظيم".....
IKHWAH : udch brx,x k'.!!!pi sngking dl3mny4 jdi sz4h..;(
Ikhwan : sudahkah mencoba untuk melupakannya? ato memaafkakn orang yang menusuk tadi?
IKHWAH : mlup4kn 2 smw4 sliiiiiiiit...........!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ikhwan : gimana kalo memaafkan org yang menusuk?
IKHWAH : dch q lp4k4n pi 4nk 2 mncuuuul lgi3...!!!
Ikhwan : masiih ngara sakit? kalo masih, brarti sebenarnya pelakunya belum kamu maafkan,
IKHWAH : dikit sch....!!!4g4k2 k'!!!
Ikhwan : brarti belum semuanya, makanya msih sakit...
IKHWAH : iy4.....;(;(!!!
Ikhwan : kalo masih sakit itu y wajar, tapi ya gak usah terlalu dipikirkan lagi, nanti malah sakit toow...
IKHWAH : yupz......th4nkz k'....!!!!!!!
Yah, begitulah. Alangkah lebih baik kita mau memberi maaf kepada orang-orang yang telah menyakiti hati atau diri kita. kesalahan yang dipendam sebenarnya hanya akan memberikan beban yang dapat menghambat perkembangan dan kualitas kehidupan kita.
Sungguh nikmat jika kita bisa memaafkan, walaupun itu sulit. Mungkin juga bisa kita bandingkan. Allah yang memiliki Keagungan begitu besar bahkan memiliki sifat Al-Qohhar (Yang Maha Memaksa) bisa memaksakan kehendaknya seperti yang diinginkan saja mau memaafkan kesalahan hamba-hambanya yang dikehendaki, mengapa kita sebagai manusia biasa sebagai ciptaannya tidak mau memaafkan sesamanya?
Langganan:
Komentar (Atom)