Sore di desa
Cipayung Kecamatan Cisarua Bogor tampak terlihat lebih gelap, karena memang
letaknya di tertutup gunung-gunung yang lebih tinggi hingga menutupi
tenggelamnya matahari. Seperti biasa udara dingin pegunungan tidak pernah absen
untuk menyellimuti, apa lagi ini adalah musim penghujan. Hujan rintik-rintik
pun menambah rasa dingin. Suara decak kaki silih berganti menuju satu ruangan
yang kami fungikan sebagai musholla untuk menunggu waktu sholat maghrib.
Menata posisi
sendal dengan begitu rapi di depan pintu merupakan ritual yang pasti dilakukan
sebelum masuk ke musholla. Di sini semua serba rapi, jangankan sampah yang
berserakan. Buku-buku, tempat tidur bahkan sendal pun di tata dengan rapi. Tak
ada hukuman di sini. Semua dilakuka dengan kesadaran masing-masing, kesadaran
akan kedisiplinan, kerapian dan keindahan sebagai calon mahasiswa di Jamiah
Hadramaut.
Suara-suara nan
syahdu bersahut-sahutan. Terdengar dari santri-santri yang mengisi waktu untuk
menunggu azan dengan membaca Al-Qur’an. Tak lama berselang Yusuf berdiri dengan
mengangkat kedua tangannya mulai bersuara dengan lantag dan merdunya. Azan
dikumandangkan, santri-santri lain pun menghentikan bacaan mereka untuk
mendengarkanya. Ustad abdullah, ustad Kamal dan ustad Siroj sudah berdiri di
belakang para santri, sholat maghrib segera dimulai.
Dalam heningnya
malam di pegunungan, diiringi gemericik suara air yang mendarat di mana saja,
kalimat takbir diucapkan menandakan sholat sudah dimulai. Paduan suara
gemericik air yang tumpah dari induknya, suara angin yang menerpa dedaunan,
suara-suara hewan malam bagai sebuah alunan musik brainwave alami yang
mengiringi setiap lafal doa, menambah kehusyuan dalam kemesraan bersama Sang
Khaliq. Sesekali angin masuk menerobos jendela meniupkan hawa dingin memecah
kehusyuan, namun tak sesekali mengusik kemesraan itu.
Seperti biasa,
setelah sholat kami membaca wirid-wirid sambil menunggu sholat isya. Gerimis
pun sudah mulai berhenti, tersisa suara angin yang membelai segala yang disentuhnya.
Membuat suara suara lembut, mengisi setiap
kesunyian yang sesekali muncul di sela-sela gelegar wirid kami. Hingga
sholat isya selesai.
Sebelum berdiri
untuk melakukan ba’diyah isya’, Ustad Abdullah sebagai imam sholat segera
membalik badan menghadap penuh ke para jama’ah.
“Ustad Siraj,
Ustad Kamal, silakan maju ke depan” kata ustad Abdullah dengan gayanya yang
santun.
“Semua
berkumpul, mendekat ke kami. Termasuk yang bertugas sebagai wadifah.”
Hati kami
bertanya-tanya, tidak biasanya ustad abdullah mengumpulkan kami seperti ini.
Bahkan yang bertugas sebagai wadifah pun disuruh ikut dulu. Biasanya kalau
dikumpulkan seperti ini berarti akan ada acara saja, tapi kami tidak mendengar
bahwa akan ada acara apa-apa.
“Assalamu’alaikum
warohmatullohi wabaokatuh” Kata Ustad Abdullah membuka pembicaraan dengan
Santri-santrinya. Aku dan teman-teman pun menjawab serentak bak sekelompok regu
koor yang kompak dan merdu memecah segala kesunyian diruang itu.
“Kalian memakai
blangkon?” dengan nada bertanya beliau melontarkan kata-kata itu. Dalam hati
aku bingung, mungkin teman-teman juga sama bingungnya dengan aku.
“Kami tidak ada
yang memakai blangkon?” Pernyataanku dalam hati.
“Lepas blangkon
kalian!” Kata Ustad Abdullah sekali lagi. Dan perkataan itu membuat aku semakin
bingung karena kami benar benar tidak ada yang memakai blangkon.
“Kalian tahu
blangkon? Topi adat jawa. Depannya halus, dibelakangnya ada bundelan atau
benjolan. Depannya baik, santun, taat, tapi di belakang, hatinya grundel,
memberontak, tidak menerima dengan keadaan.” Sejenak beliau diam. Melemparkan
pandangannya yang tetap teduh kepada semua santri-santrinya.
“Di depan kami,
para ustad, Kalian baik, berbahasa Arab dengan baik, tapi kalau kami tidak ada
kalian berbahasa dengan bahasa sesuka kalian sendiri. Kami mendengar itu.
Ingat! Kalian itu adalah calon mahasiswa di Yaman, di sana bahasa yang
digunakan bahasa apa?”
“Bahasa Arab”
Jawab kami serentak.
“Bahasa
pengantar yang digunakan dalam belajar di sana juga Bahasa Arab. Kalau tidak
kalian biasakan dari sekarang, di sana kalian akan ketinggalan. Kami tidak akan
memberi hukuman kepada kalian, kami harap semua itu tumbuh dari kesadaran
kalian masing-masing, kesadaran akan ketaatan, kedisplinan dan kebutuhan
terhadap ilmu.” Lanjut Ustad Abdullah menjelaskan keprihatinannya.
Sejenak kening
terasa menjeda petuah-petuah Ustad Abdullah kepada santri-santrinya.
“Tolong itu
diingat dan ditanam dalam hati Kalian. Selanjutnya setelah ini Kalian bisa
makan malam. Tapi sebelumnya mari sholat ba’diyah dulu. Assalamualaikum
warohmatullahi wabarokatuh.” Akhir dari petuah beliau.
***
Saatnya makan
malam. Kami bersegera keluar dari musholla. Kaki-kaki yang menyagga perut
lapar, satu persatu mencari sendalnya dari barisannya tadi. Sendal-sendal yang
tertata rapi tadi pun nampak sudah agak acak-acakan, tersisa sendal
santri-santri yang masih husyu di musholla. Kami para pendengar suara perut,
termasuk aku langsung menuju satu ruang di bawah tangga yang telah disediakan
khusus sebagai tempat untuk makan para santri.
Sedangkan para petugas wadifah langsung ke dapur untuk mengambil
makanan.
Sambil menunggu
petugas wadhifah menyiapkan makan, sejenak kami hanya terdiam dan saling
mengintai pandangan satu sama lain. Hingga Hafid masuk mengalihkan pandangan
kami.
“Kalian dengar
kata Ustad Abdulah tadi?” Kata Hafid dengan bahasa arabnya yang fasih, untuk
memastikan. Mungkin karena dia adalah santri yang paling tua dan paling lama di
sini, dia merasa punya tanggung jawab atas kekacauan bahasa kami siang tadi.
“Tahu tidak, kisalahan
kita apa?” Sahut Syihab, melempar pertanyaan kepeda kami semua.
“Emangnya apa?”
Tanya David, santri paling muda di sini.
Aku hanya diam,
tak bicara sepatah katapun. Aku mengerti kesalan kami hingga ustad Abdullah
berbicara seperti itu, namun dalam kelabunya hati, aku hanya diam. Aku pikir
mereka semua pun pasti menyadari tentang yang dibicarakan Ustad Abdullah tadi.
Jadi aku tidak perlu banyak bicara tentang itu. Ternyata ada yang belum tahu. Biarlah
kesalahan itu telah terjadi, tidak perlu dibicarakan, sekarang tinggal
memperbaiki kesalahan itu.
“Itu karena
tadi siang waktu di kamar kita cerita kesana-kemari dengan bahasa Indonesia.
Mungkin ustad abdullah mendengar itu.” Kata Magfir.
“Iya, ya. Kamar
kita kan di atas kamar ustad Abdullah.” Tanggap David.
“Ya, dulu kata
ustad abdullah kan salah-salah sedikit tidak apa-apa. Yang penting kita sudah
berusaha dan sedikit demi sedikit memperbaikinya. Kita di sini sama-sama
belajar.” Terang Afif.
“Hai, Kawan.
Benar sekali kata ustad abdullah tadi. Kalau kita tibak membiasakan berbahasa
arab dari sekarang, kita akan ketinggalan.” Kata malik dengan logat
gorontalonya yang has, sambil membagi pandanyannya kepada kita semua.
“Ah, biar saja.
Aku mungkin tidak akan bisa berangkat bersama Kalian.” Aku merajuk dalam hati. Aku
tidak mempedulikan semua itu, mungkin sebentar lagi aku akan mengundurkan diri
karena berbagai hal yang kalian mungkin juga tidak akan mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar