Minggu, 17 Maret 2013

Dilarang Memakai Blangkon


Sore di desa Cipayung Kecamatan Cisarua Bogor tampak terlihat lebih gelap, karena memang letaknya di tertutup gunung-gunung yang lebih tinggi hingga menutupi tenggelamnya matahari. Seperti biasa udara dingin pegunungan tidak pernah absen untuk menyellimuti, apa lagi ini adalah musim penghujan. Hujan rintik-rintik pun menambah rasa dingin. Suara decak kaki silih berganti menuju satu ruangan yang kami fungikan sebagai musholla untuk menunggu waktu sholat maghrib.
Menata posisi sendal dengan begitu rapi di depan pintu merupakan ritual yang pasti dilakukan sebelum masuk ke musholla. Di sini semua serba rapi, jangankan sampah yang berserakan. Buku-buku, tempat tidur bahkan sendal pun di tata dengan rapi. Tak ada hukuman di sini. Semua dilakuka dengan kesadaran masing-masing, kesadaran akan kedisiplinan, kerapian dan keindahan sebagai calon mahasiswa di Jamiah Hadramaut.
Suara-suara nan syahdu bersahut-sahutan. Terdengar dari santri-santri yang mengisi waktu untuk menunggu azan dengan membaca Al-Qur’an. Tak lama berselang Yusuf berdiri dengan mengangkat kedua tangannya mulai bersuara dengan lantag dan merdunya. Azan dikumandangkan, santri-santri lain pun menghentikan bacaan mereka untuk mendengarkanya. Ustad abdullah, ustad Kamal dan ustad Siroj sudah berdiri di belakang para santri, sholat maghrib segera dimulai.
Dalam heningnya malam di pegunungan, diiringi gemericik suara air yang mendarat di mana saja, kalimat takbir diucapkan menandakan sholat sudah dimulai. Paduan suara gemericik air yang tumpah dari induknya, suara angin yang menerpa dedaunan, suara-suara hewan malam bagai sebuah alunan musik brainwave alami yang mengiringi setiap lafal doa, menambah kehusyuan dalam kemesraan bersama Sang Khaliq. Sesekali angin masuk menerobos jendela meniupkan hawa dingin memecah kehusyuan, namun tak sesekali mengusik kemesraan itu.
Seperti biasa, setelah sholat kami membaca wirid-wirid sambil menunggu sholat isya. Gerimis pun sudah mulai berhenti, tersisa suara angin yang membelai segala yang disentuhnya. Membuat suara suara lembut, mengisi setiap  kesunyian yang sesekali muncul di sela-sela gelegar wirid kami. Hingga sholat isya selesai.
Sebelum berdiri untuk melakukan ba’diyah isya’, Ustad Abdullah sebagai imam sholat segera membalik badan menghadap penuh ke para jama’ah.
“Ustad Siraj, Ustad Kamal, silakan maju ke depan” kata ustad Abdullah dengan gayanya yang santun.
“Semua berkumpul, mendekat ke kami. Termasuk yang bertugas sebagai wadifah.”
Hati kami bertanya-tanya, tidak biasanya ustad abdullah mengumpulkan kami seperti ini. Bahkan yang bertugas sebagai wadifah pun disuruh ikut dulu. Biasanya kalau dikumpulkan seperti ini berarti akan ada acara saja, tapi kami tidak mendengar bahwa akan ada acara apa-apa.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabaokatuh” Kata Ustad Abdullah membuka pembicaraan dengan Santri-santrinya. Aku dan teman-teman pun menjawab serentak bak sekelompok regu koor yang kompak dan merdu memecah segala kesunyian diruang itu.
“Kalian memakai blangkon?” dengan nada bertanya beliau melontarkan kata-kata itu. Dalam hati aku bingung, mungkin teman-teman juga sama bingungnya dengan aku.
“Kami tidak ada yang memakai blangkon?” Pernyataanku dalam hati.
“Lepas blangkon kalian!” Kata Ustad Abdullah sekali lagi. Dan perkataan itu membuat aku semakin bingung karena kami benar benar tidak ada yang memakai blangkon.
“Kalian tahu blangkon? Topi adat jawa. Depannya halus, dibelakangnya ada bundelan atau benjolan. Depannya baik, santun, taat, tapi di belakang, hatinya grundel, memberontak, tidak menerima dengan keadaan.” Sejenak beliau diam. Melemparkan pandangannya yang tetap teduh kepada semua santri-santrinya.
“Di depan kami, para ustad, Kalian baik, berbahasa Arab dengan baik, tapi kalau kami tidak ada kalian berbahasa dengan bahasa sesuka kalian sendiri. Kami mendengar itu. Ingat! Kalian itu adalah calon mahasiswa di Yaman, di sana bahasa yang digunakan bahasa apa?”
“Bahasa Arab” Jawab kami serentak.
“Bahasa pengantar yang digunakan dalam belajar di sana juga Bahasa Arab. Kalau tidak kalian biasakan dari sekarang, di sana kalian akan ketinggalan. Kami tidak akan memberi hukuman kepada kalian, kami harap semua itu tumbuh dari kesadaran kalian masing-masing, kesadaran akan ketaatan, kedisplinan dan kebutuhan terhadap ilmu.” Lanjut Ustad Abdullah menjelaskan keprihatinannya.
Sejenak kening terasa menjeda petuah-petuah Ustad Abdullah kepada santri-santrinya.
“Tolong itu diingat dan ditanam dalam hati Kalian. Selanjutnya setelah ini Kalian bisa makan malam. Tapi sebelumnya mari sholat ba’diyah dulu. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Akhir dari petuah beliau.
***
Saatnya makan malam. Kami bersegera keluar dari musholla. Kaki-kaki yang menyagga perut lapar, satu persatu mencari sendalnya dari barisannya tadi. Sendal-sendal yang tertata rapi tadi pun nampak sudah agak acak-acakan, tersisa sendal santri-santri yang masih husyu di musholla. Kami para pendengar suara perut, termasuk aku langsung menuju satu ruang di bawah tangga yang telah disediakan khusus sebagai tempat untuk makan para santri.  Sedangkan para petugas wadifah langsung ke dapur untuk mengambil makanan.
Sambil menunggu petugas wadhifah menyiapkan makan, sejenak kami hanya terdiam dan saling mengintai pandangan satu sama lain. Hingga Hafid masuk mengalihkan pandangan kami.
“Kalian dengar kata Ustad Abdulah tadi?” Kata Hafid dengan bahasa arabnya yang fasih, untuk memastikan. Mungkin karena dia adalah santri yang paling tua dan paling lama di sini, dia merasa punya tanggung jawab atas kekacauan bahasa kami siang tadi.
“Tahu tidak, kisalahan kita apa?” Sahut Syihab, melempar pertanyaan kepeda kami semua.
“Emangnya apa?” Tanya David, santri paling muda di sini.
Aku hanya diam, tak bicara sepatah katapun. Aku mengerti kesalan kami hingga ustad Abdullah berbicara seperti itu, namun dalam kelabunya hati, aku hanya diam. Aku pikir mereka semua pun pasti menyadari tentang yang dibicarakan Ustad Abdullah tadi. Jadi aku tidak perlu banyak bicara tentang itu. Ternyata ada yang belum tahu. Biarlah kesalahan itu telah terjadi, tidak perlu dibicarakan, sekarang tinggal memperbaiki kesalahan itu.
“Itu karena tadi siang waktu di kamar kita cerita kesana-kemari dengan bahasa Indonesia. Mungkin ustad abdullah mendengar itu.” Kata Magfir.
“Iya, ya. Kamar kita kan di atas kamar ustad Abdullah.” Tanggap David.
“Ya, dulu kata ustad abdullah kan salah-salah sedikit tidak apa-apa. Yang penting kita sudah berusaha dan sedikit demi sedikit memperbaikinya. Kita di sini sama-sama belajar.” Terang Afif.
“Hai, Kawan. Benar sekali kata ustad abdullah tadi. Kalau kita tibak membiasakan berbahasa arab dari sekarang, kita akan ketinggalan.” Kata malik dengan logat gorontalonya yang has, sambil membagi pandanyannya kepada kita semua.
“Ah, biar saja. Aku mungkin tidak akan bisa berangkat bersama Kalian.” Aku merajuk dalam hati. Aku tidak mempedulikan semua itu, mungkin sebentar lagi aku akan mengundurkan diri karena berbagai hal yang kalian mungkin juga tidak akan mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar