Minggu, 14 April 2013

Kisah Sopir Taksi

Suatu hari seorang sopir taksi mendapat penumpang seorang wanita cantik yang untuk pergi ke kantor. Perjalanan begitu lancar, jalanan tampak tidak terlalu ramai. Ketika sampai di perempatan dengan lampu lalulintasnya, si sopir dan wanita tersebut menemui lampu merah, akhirnya si sopir menghentikan laju taksinya. Tapi tiba-tiba dari belakang terasa ada hentakan besar. Benar saja, setelah si sopir dan wanita tersebut keluar ternyata ada truk di belakang yang menabrak taksinya. Terlihat orang-orang di sekitar kejadian itu menghampiri dan menyalahkan si sopir truk tersebut.
Tanpa babibu, wanita yang menumpangi taksi itu mengomel tanpa arah.  Setelah wanita penumpang taksi itu merasa agak puas mengomeli si sopir truk, dia bertanya kepada si sopir taksi yang terlihat hanya diam saja.
“Pak, taksinya ditabrak kok malah diam saja sih?”
Dalam posisi ini si sopir taksi adalah pihak yang paling dirugikan, karena taksi yang dikemudikannya itu adalah taksi sewaan yang harus dipertanggungjawabkannya karena tidak berasuransi. Tapi sopir taksi itu tidak terlihat marah sama sekali.
Sopir taksi tersebut akhirnya menjawab, sambil  menggantungkan senyuman di wajahnya, sopir taksi itu mengatakan “tadi pagi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan berdo’a kepada Tuhan, ‘Ya Allah, hari ini aku ingin menjadi orang baik. Aku tidak ingin mengotori hatiku dengan rasa iri, dengki, sombong, marah dan  malas.’ Dan demikian juga aku berjanji pada diriku sendiri.”
Apa yang anda dapat dari cerita ini?

Mari Berikhtiyar

Salah satu hal yang menyebabkan manusia tidak mau berusaha, putus asa dan menganggap bahwa ikhtiyar itu tidak perlu dilakukan adalah
Manusia Belum Memahami Perintah Allah
Dalam dunia ini Allah telah memberikan patokan-patokan kehidupan bagi manusia yaitu syari’at yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Keduanya berisi tentang berbagai perintah, dari perintah untuk menetapkan diri dalam Islam dengan menjalankan rukun Islam dan rukun iman sampai perintah mencari rizki yang baik. Dan berisi tentang berbagai larangan, dari larangan menyekutukan Allah sampai larangan melupakan kehidupan dunia.
Percaya akan adanya takdir merupakan bagian dari rukun iman dan mempercayai seluruh yang ada dalam rukun iman merupakan perintah. Setiap manusia tidak dikatakan beriman yang sempurna jika tidak mempercayai adanya takdir. Takdir itu memang benar adanya dan harus kita yakini keberadaannya sebagai hal yang nyata. Tapi, tidak berarti kalau kita percaya akan adanya takdir kemudian kita pasrahkan semua yang ada dalam kehidupan dunia ini terhadap takdir tanpa ikhtiyar.
Iktiyar juga merupakan perintah dari Allah yang harus kita jalani. Adanya hukum sebab-akibat di dunia ini juga harus kita perhatikan. Allah telah menciptakan akibat agar kita mau menepati sebab-sebab. Dan pengetahuan kita tentang sebab-akibat ini merupakan karunia Allah yang harus kita syukuri dengan mempergunakannya sebagai bahan pertimbangan bagi kita dalam bergerak.
Sebagaimana Allah Yang Maha Lembut menciptakan siang dan malam dengan proses yang begitu indah. Dan dalam pergantian siang dan malam itu agar manusia menggunakannya dengan sesuai. manusia juga diperintah untuk memperoleh hal yang diinginkan dengan berikhtiyar hingga memeroleh keinginannya. Firman Allah dalam surat Al-Furqon yang artinya : “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”