Desa
Wedi Kecamatan Kapas merupakan desa yang memiliki perkebuanan salak yang
terluas di Bojonegoro. Hampir 30 % luas tanah desa merupakan perkebunan salak. Di
sepanjang jalan desa, setiap gang-gang dapat kita jumpai perkebunan salak. Hampir
di setiap lahan yang tidak digunakan untuk bangunan ditumbuhi pohon salak.
Tidak hayal jika Desa Wedi dijuluki sebagai kota salak (salak city).
Banyak
desa sekitar wedi yang masih memiliki kebun salak. Seperti Desa Kalianyar,
Tanjungharjo, Tapelan, Bangilan, dan Ngumpakdalem, namun luas perkebunannya
tidak seluas di Wedi. Dari sekian desa yang menghasilkan salak kebanyakan jika
ditanya asal salak yang dipanen menyebutkan bahwa salak tersebut adalah salak
wedi atau pun salak yang berasal dari Wedi. jadi salak wedi bukanlah satu jenis
salak yaitu jenis salak pasir (wedi-dalam Bahasa Jawa), namun sebenarnya kata
Wedi itu adalah asal buah salak tersebut dari Desa Wedi. namun karena nama
tersebut sudah melekat maka ada juga yang mengatakan salak wedi adalak satu
jenis dari buah salak.
Penyebutan
salak Wedi pastilah bukan tanpa alasan. Jika kita usut sebab yang menjadikan
mereka menyebutkan salak yang ada di sekitar desa Wedi adalah salak Wedi maka
kita akan menemukan dua alasan pokok. Yang pertama yaitu karena memang yang
terkenal adalah salak wedi dan yang kedua adalah sejarah dari keberadaan salak
di wedi dan sekitarnya tersebut.
Tidak
banyak yang tahu tentang asal muasal adanya salak Wedi. Bahkan orang wedi
sendiri, yang diketahui bahwa salak di Desa Wedi itu sudah ada sejak dahulu
kala. Entah kapan itu adanya. Tidak peduli kapan mulainya, yang penting di Wedi
ada Salak dan Wedi terkenal dengan salaknya.
Jika
kita berbicara tentang sejarah salak wedi maka tidak akan lepas dari sejarah seorang
ulama yang bernama Kiyai Haji Basyir Mujtaba yang hidup pada pertengahan tahun
1.800-an Masehi. Jadi, sebenarnya salak Wedi itu baru ada
selama dua abad. Yang mengetahui sejarah salak Wedi ini hanya keturunan Kiyai
Haji Basyir Mujtaba saja dan beberapa orang yang titen saja karena memang,
sejarah itu hanya berkembang secara lisan di antara keturunan Kiyai Haji Basyir
Mujtaba saja
Kiyai
Haji Basyir Mujtaba memiliki nama asli Mujtaba. Berasal dari Dukuh Sekartoyo
Desa Pacul, seorang putera dari Kiyai Abdur Rohim bin Kiyai Harun atau mbah
Sholeh Awwal (Bungah Gresik) dengan Ibu yang bernama Nyai Umi Kulsum. Adapun
nama Basyir itu sendiri diperoleh ketika beliau pergi haji di Arab Saudi, di
sana beliau meminta berkah nama kepada seorang ulama’ (tidak dikenal dalam
riwayatnaya). Akhirnya beliau diberi nama Basyir dan sekembalinya dari haji
beliau lebih dikenal dengan nama Haji Basyir Mujtaba.
Dalam
hidupnya, beliau pernah nyantri (belajar ilmu agama) yang cukup lama pada Kiyai
Kholil Bangkalan Madura yang terkenal kewaliannya. Karena sudah dianggap cukup
mampu menguasai ilmu agama, beliau pun pulang ke kampung halamannya Desa Pacul Bojonegoro
untuk dapat mengamalkannya ilmu yang telah diperolehnya. Karena kealimannya
(kepandaiannya) dalam ilmu agama beliau disebut oleh masyarakat dengan sebutan
Kiyai. Sebutan kiyai di sini berbeda dengan istilah kiyai di daerah kraton.
Kiyai di sini berarti sebutan untuk orang yang pandai ilmu agama Islam.
Saat
itu, Desa Wedi masih dalam keadaan abangan
(masih belum begitu mengenal agama Islam). Karena prihatin dengan hal
tersebut, H. Abu Bakar sebagai kepala desa Wedi saat itu beserta cariknya Abdul
Jabbar berinisiatif untuk mendatangkan seorang ulama untuk dapat mengajarkan
ilmu agama dan memberi pengaruh baik bagi masyarakat Desa Wedi. Akhirnya mereka
memutuskan untuk meminta Kiyai Haji Basyir Mujtaba agar mau berdakwah dan
menetap di Desa Wedi. Dengan berbagai pertimbangan dan di Desa Pacul sudah ada
kiyai, Kiyai Haji Basyir Mujtaba pun menyetujui tawaran tersebut dan beliau diboyong
(membawa pindah) dari Sekartoyo Pacul ke desa Wedi. Di Desa Wedi beliau diberi
sebidang tanah yang sangat luas untuk dapat dijadikan sarana berdakwah.
Beberapa
tahun singgah di Wedi beliau pergi sowan kepada kiyainya yaitu K. Kholil
Bangkalan untuk bersilatur rahmi dan menjaga hubungan antara guru dan murid. dari
sini lah sejarah keberadaan salak Wedi itu dimulai.
Ketika
hendak pulang, Kiyai Basyir diberi pohon salak dan rembulung (pohon sagu) yang
kata K. Kholil Bangkalan adalah sebagai oleh-oleh dari pondok. Akhirnya, salak dan
rembulung oleh-oleh dari kiyai beliau tadi ditanam di belakang rumah beliau
yang berada di antara bangunan masjid Wedi dan Makam Islam desa Wedi.
Dari
situ lah, kemudian salak oleh-oleh dari K. Kholil Bangkalan Madura tersebut semakin
lama berkembang biak menjadi semakin banyak sampai sekarang tersebar di
desa-desa sekitar Desa Wedi bahkan sampai desa Ngumpakdalem. Sedangkan pohon
rembulung yang juga ditanam tersebut tidak begitu berkembang karena selain masa panennya lama, pengolahan
rembulung juga lebih sulit. Jadi sebenarnya, cikal bakal salak Wedi itu adalah
salak dari Bangkalan Madura.
Walau
begitu, salak Wedi memiliki ciri has tersendiri yang berbeda dengan salak lain
seperti salak pondoh maupun salak Bangkalan sendiri yang merupakan asal muasal
salak Wedi. Salak Wedi lebih berair dan memiliki rasa sepet, legi, kecut, masir
( Sepet, manis dan asam) dan baunya lebih menyengat dari salak jenis lain. Maka
tidak salah juga jika kemudian ada yang mengatakan bahwa salak Wedi tersebut
sebagai salah satu jenis dari buah salak.
Kalau dipasaran salak Wedi kalah bersaing dg salak pondoh, karena rasanya yg cenderung asam, beda sama salak pondoh walaupun belum tua rasanya manis. Hal ini mungkin bisa disiasati dg mengolah salak wedi sebagai minuman sari salak wedi seperti halnya apel malang, yg nota bene jg kalah dg apel impor. Namun dg adanya terobosan baru mengolah apel malang menjadi minuman yg segar menjadikannya mempunyai nilai ekonomis yg tinggi.
BalasHapus