Tahukah kita bahwa waktu itu adalah anugerah Allah yang sangat besar.
Kita diberi waktu untuk hidup, kita hidup karena diberi waktu untuk beribadah (mengabdi), kita diberi waktu untuk beribadah supaya kita memiliki rasa bertanggng jawab, kita diberi diberi tanggung jawab lalu kita diberi waktu untuk menunaikan tanggung jawab tersebut.
Kita pelu ingat. Di setiap waktu itu ada kewajiban-kewajiban yang harus kita hadapi dan selesaikan sebagai pertanggungjawaban atas diri kita sendiri.
Tapi mengapa kita sering meremehkan waktu tersebut? Apakah kita tidak mendengar jam itu betbisik dan bertanya kepada kita “Apa yang seharusnya Kamu lakukan sekarang?” apakah kita tidak berusaha menjawab? Pura-pura tidak mendengar? Atau bahkan benar-benar tidak mendengar sama sekali?
Kita sering mendengar dari pepatah-pepatah dan syair-syair maupun kata-kata bijak tentang pentingnya dan berharganya waktu.
Benar sekali jika dikatakan bahwa waktu itu jauh lebih berharga dari pada harta benda. Kita pasti pernah kehilangan harta benda, apakah itu uang, maupun barang dengan cara lenyap maupun rusak. Semua itu bisa kita cari penggantinya. Uang yang hilang, kiya bisa mencarinya lagi bahkan lebih banyak, barang yang hilang pun bisa kita mencari penggantinya lagi dengan barang yang sama atau bahkan dengan yang lebih bagus.
Tapi kalau waktu yang hilang? Kemana kita akan mencari gantinya lagi? Waktu itu terus berjalan dan yang sudah berlalu tidak mungkin akan bisa kembali lagi. Kalau mungkin kesempatan untuk melakukan sesuatu bisa kita cari lagi, pasti tidak akan seperti kesempatan yang datang di masa lampau. Kalau pada kesempatan yang telah lalu kita gagal paling tidak akan bisa menjadi pelajaran dan latihan untuk kita. Kalau kita berhasil maka sekarang kita mungkin sudah lebih berhasil lagi. Tapi jika kita siakan, kesempatan itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perbaikan untuk kita.
Ingatlah, Allah memberi kita waktu bersama tanggung jawab yang harus kita penuhi.
Selasa, 21 Mei 2013
Mari Belajar Bersedekah
Bagi para calon jutawan dan para orang yang sudah menjadi jutawan.
Adakah kita sudah bisa menjaga amanat Allah yang berupa harta?
Cobalah renungkan sejenak hal berikut!
Kita sekarang memiliki uang Rp. 10.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 1.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita sekarang memiliki uang Rp. 100.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 10.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Dengan jumlah sedemikian, mungkin kita akan bisa memberikannya. Itu bukan suatu jumlah yang berat dan besar di mata kita dan dimata umum. Tapi jika sekarang jumlah tersebut ditambah satu nol saja.
Kita memiliki uang Rp. 1.000.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 100.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita pasti akan pikir-pikir untuk memberikannya. Padahal perbandingannya sama dengan jumlah yang sebelumnya. Dengan jumlah sedemikian pula, jumlah sisa yang masih kita miliki juga lebih besar. Tapi mengapa jumlah ini lebih berat?
Tanyalah kepada diri kita!
Sekarang coba, jika nominal tersebut ditambah satu nol lagi. Apakah kita akan memberikan, dengan perbandingan yang sama (10%). Itu bukan jumlah yang terlalu besar, kan?
Selanjutnya, apakah kita sudah bisa menjaga amanah Allah yang berupa harta?
sekali lagi,
Tanyalah kepada diri kita!
Adakah kita sudah bisa menjaga amanat Allah yang berupa harta?
Cobalah renungkan sejenak hal berikut!
Kita sekarang memiliki uang Rp. 10.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 1.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita sekarang memiliki uang Rp. 100.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 10.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Dengan jumlah sedemikian, mungkin kita akan bisa memberikannya. Itu bukan suatu jumlah yang berat dan besar di mata kita dan dimata umum. Tapi jika sekarang jumlah tersebut ditambah satu nol saja.
Kita memiliki uang Rp. 1.000.000,-.
Jika ada seseorang meminta uang Rp. 100.000,- dari kita.
Apakah kita akan memberikan?
Kita pasti akan pikir-pikir untuk memberikannya. Padahal perbandingannya sama dengan jumlah yang sebelumnya. Dengan jumlah sedemikian pula, jumlah sisa yang masih kita miliki juga lebih besar. Tapi mengapa jumlah ini lebih berat?
Tanyalah kepada diri kita!
Sekarang coba, jika nominal tersebut ditambah satu nol lagi. Apakah kita akan memberikan, dengan perbandingan yang sama (10%). Itu bukan jumlah yang terlalu besar, kan?
Selanjutnya, apakah kita sudah bisa menjaga amanah Allah yang berupa harta?
sekali lagi,
Tanyalah kepada diri kita!
Langganan:
Komentar (Atom)